Siap menyambut Mahasiswa Baru di Kampus, FTIK UIN Saizu Rancang PBAK 2026 yang Humanis dan Transformatif
20/06/2026 2026-06-22 0:41Siap menyambut Mahasiswa Baru di Kampus, FTIK UIN Saizu Rancang PBAK 2026 yang Humanis dan Transformatif
Siap menyambut Mahasiswa Baru di Kampus, FTIK UIN Saizu Rancang PBAK 2026 yang Humanis dan Transformatif
Purwokerto, 20/06/2026 – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesehatan mental mahasiswa, maraknya kasus perundungan di lingkungan pendidikan, serta tantangan generasi muda yang tumbuh di era digital, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menegaskan komitmennya menghadirkan proses pengenalan kampus yang lebih edukatif, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Upgrading Panitia Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) FTIK Tahun 2026 yang berlangsung di Meeting Room K.H.A. Wahid Hasyim pada Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 120 mahasiswa yang akan menjadi garda terdepan penyambutan mahasiswa baru dari tujuh program studi di lingkungan FTIK.
Bagi FTIK, PBAK tidak lagi dipandang sekadar agenda tahunan untuk memperkenalkan lingkungan kampus. Lebih dari itu, PBAK merupakan ruang strategis untuk membangun kesan pertama mahasiswa terhadap dunia perguruan tinggi sekaligus menanamkan nilai-nilai akademik, etika, dan kepemimpinan yang akan menjadi fondasi perjalanan mereka selama menempuh pendidikan tinggi.
Dekan FTIK, Prof. Dr. H. Fauzi M.Ag., menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut kampus menghadirkan pola orientasi yang semakin bermakna. Menurutnya, mahasiswa baru saat ini merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah arus informasi yang sangat cepat, memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya, sekaligus menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks.
Karena itu, Prof. Fauzi menyampaikan bahwa orientasi mahasiswa tidak boleh berhenti pada pengenalan fasilitas kampus atau aturan akademik semata. PBAK harus menjadi wahana transformasi yang membantu mahasiswa beralih dari pola pikir sebagai siswa menuju pribadi pembelajar yang mandiri, kritis, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan dinamika masyarakat modern.
“Mahasiswa baru perlu merasakan sejak awal bahwa kampus adalah ruang belajar yang aman, inklusif, dan menghargai martabat setiap individu. PBAK harus menjadi gerbang pertama yang menunjukkan nilai-nilai tersebut,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai lembaga pendidikan di Indonesia terus didorong untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan dan perundungan. Dalam materi upgrading, panitia dibekali pemahaman mengenai pentingnya membangun budaya kampus yang berlandaskan penghormatan terhadap sesama serta penerapan prinsip zero tolerance terhadap bullying, kekerasan verbal, kekerasan fisik, maupun kekerasan seksual.
Menurut Prof. Fauzi, keberhasilan sebuah orientasi mahasiswa tidak diukur dari seberapa ketat aturan yang diterapkan, melainkan dari seberapa jauh kegiatan tersebut mampu membangun rasa memiliki terhadap kampus, menumbuhkan semangat belajar, serta memperkuat kepercayaan diri mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya.
Selain itu, para panitia juga diajak memahami bahwa mereka bukan sekadar penyelenggara kegiatan, melainkan representasi nilai dan budaya akademik FTIK. Sikap, tutur kata, serta cara mereka berinteraksi dengan mahasiswa baru akan membentuk persepsi awal mengenai wajah fakultas dan kualitas kehidupan akademik yang akan dijalani mahasiswa selama beberapa tahun ke depan.
Dalam konteks yang lebih luas, PBAK juga diposisikan sebagai bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan masa depan. Mulai dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan, perubahan pola kerja global, hingga tuntutan masyarakat terhadap lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Karena itu, FTIK memandang penguatan budaya akademik, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan kepedulian sosial sebagai aspek yang harus diperkenalkan sejak hari pertama mahasiswa memasuki kampus. Pendekatan tersebut sejalan dengan visi fakultas untuk melahirkan pendidik dan intelektual muslim yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.
Melalui upgrading ini, FTIK berharap seluruh panitia memiliki kesamaan visi dalam menyelenggarakan PBAK 2026. Dengan demikian, mahasiswa baru tidak hanya memperoleh informasi tentang kehidupan kampus, tetapi juga mendapatkan pengalaman awal yang positif, inspiratif, dan membangun optimisme untuk menapaki perjalanan akademik mereka.
Bagi FTIK, menyambut mahasiswa baru pada hakikatnya bukan sekadar menerima peserta didik baru. Lebih dari itu, kampus sedang menyambut calon-calon pendidik, pemimpin, peneliti, dan agen perubahan yang kelak akan berkontribusi bagi masyarakat. Karena itulah, proses penyambutan mereka harus dimulai dengan cara-cara yang mendidik, memanusiakan, dan memberi harapan tentang masa depan.