Atasi Keterbatasan Guru, FTIK UIN Saizu Kembali menyerahkan 295 Mahasiswa Pada Program Asistensi Mengajar Dan Magang Terintegrasi Batch III Ke Sekolah Dasar Banjarnegara
14/07/2026 2026-07-23 14:37Atasi Keterbatasan Guru, FTIK UIN Saizu Kembali menyerahkan 295 Mahasiswa Pada Program Asistensi Mengajar Dan Magang Terintegrasi Batch III Ke Sekolah Dasar Banjarnegara
Atasi Keterbatasan Guru, FTIK UIN Saizu Kembali menyerahkan 295 Mahasiswa Pada Program Asistensi Mengajar Dan Magang Terintegrasi Batch III Ke Sekolah Dasar Banjarnegara
Purwokerto, 14/07/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali memperkuat kontribusinya dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan dasar melalui Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi Batch III Tahun 2026. Sebanyak 295 mahasiswa secara resmi diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara untuk melaksanakan program asistensi mengajar dan magang selama enam bulan di 164 sekolah dasar yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Banjarnegara.
Prosesi penyerahan mahasiswa dilaksanakan di Pendopo Dipayudha Adigraha Kabupaten Banjarnegara, Selasa (14/7/2026), dan dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora), pimpinan FTIK UIN Saizu Purwokerto, kepala sekolah mitra, serta ratusan mahasiswa peserta program.
Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi merupakan hasil kerja sama antara FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Banjarnegara yang pada tahun 2026 memasuki tahun ketiga pelaksanaannya. Keberlanjutan program ini menunjukkan komitmen kedua belah pihak dalam membangun kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa calon guru melalui pengalaman belajar langsung di sekolah.
Dalam sambutannya, Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menegaskan bahwa pendidikan calon guru tidak cukup hanya diperoleh melalui proses perkuliahan. Menurutnya, mahasiswa harus mendapatkan kesempatan untuk terjun langsung ke sekolah agar memahami realitas pendidikan sekaligus mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan sebagai pendidik profesional.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus, tetapi juga harus memahami kondisi pendidikan secara langsung melalui pengalaman mengajar di sekolah. Melalui pendekatan learning by doing, mahasiswa dilatih menghadapi situasi nyata di kelas, berinteraksi dengan siswa, serta mengasah kemampuan sebagai calon pendidik profesional,” ujar Prof. Fauzi.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan learning by doing menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan profesionalisme mahasiswa. Pengalaman berada di lingkungan sekolah akan mempertemukan mahasiswa dengan berbagai dinamika pembelajaran, mulai dari penyusunan perangkat ajar, pengelolaan kelas, hingga membangun komunikasi dengan peserta didik, guru, dan warga sekolah.
Lebih lanjut, Prof. Fauzi menilai bahwa program ini menjadi ruang belajar yang komprehensif bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik nyata di lapangan. Dengan demikian, lulusan FTIK diharapkan tidak hanya memiliki penguasaan akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara, Hendro Cahyono, menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan UIN Saizu Purwokerto. Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan manfaat besar, baik bagi sekolah maupun mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menjadi tenaga pendidik.
Dalam paparannya, Hendro mengungkapkan bahwa sektor pendidikan di Kabupaten Banjarnegara masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan jumlah guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, kebutuhan ideal guru ASN untuk seluruh sekolah dasar negeri, termasuk kepala sekolah, mencapai 5.564 orang, sementara jumlah guru ASN yang tersedia saat ini baru sekitar 3.387 orang. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sebanyak 2.177 guru ASN.
Kondisi tersebut mengharuskan sejumlah sekolah melakukan berbagai penyesuaian, termasuk penugasan guru untuk mengajar lintas mata pelajaran maupun merangkap tugas sesuai kebutuhan sekolah. Oleh karena itu, kehadiran mahasiswa peserta Program Asistensi Mengajar dinilai mampu memberikan dukungan terhadap keberlangsungan proses pembelajaran di sekolah mitra.
“Kami berharap mahasiswa dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa sekaligus memperoleh pengalaman lapangan yang akan menjadi bekal ketika kelak menjadi guru. Dunia pendidikan membutuhkan pendidik yang kompeten, berdedikasi, dan mampu menginspirasi anak-anak,” ujar Hendro Cahyono.
Menurut Hendro, keberadaan mahasiswa tidak hanya membantu proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga membawa semangat baru dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam memahami tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.

Ia juga menjelaskan bahwa melalui program tersebut mahasiswa akan memberikan layanan pembelajaran pada ratusan kelas di sekolah dasar mitra sekaligus memperoleh pengakuan akademik berupa konversi hingga 20 satuan kredit semester (SKS). Skema tersebut menjadi bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengalaman yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi Batch III Tahun 2026 menjadi wujud nyata komitmen FTIK UIN Saizu Purwokerto dalam menghasilkan calon pendidik yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman lapangan, kemampuan pedagogik, serta kepekaan sosial. Di sisi lain, kolaborasi ini memperlihatkan sinergi yang kuat antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di Kabupaten Banjarnegara.
Melalui kolaborasi yang terus berlanjut ini, FTIK UIN Saizu Purwokerto optimistis mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna sekaligus memberikan kontribusi positif bagi sekolah-sekolah mitra. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi guru profesional yang adaptif, berintegritas, dan siap menjawab tantangan pendidikan Indonesia di masa depan.