Diundang sebagai Narasumber, Dekan FTIK UIN SAIZU Bahas Integrasi Aswaja An-Nahdliyah dalam Pengembangan Madrasah pada Review Kurikulum dan In House Training MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang
02/07/2026 2026-07-02 20:42Diundang sebagai Narasumber, Dekan FTIK UIN SAIZU Bahas Integrasi Aswaja An-Nahdliyah dalam Pengembangan Madrasah pada Review Kurikulum dan In House Training MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang
Diundang sebagai Narasumber, Dekan FTIK UIN SAIZU Bahas Integrasi Aswaja An-Nahdliyah dalam Pengembangan Madrasah pada Review Kurikulum dan In House Training MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang
Purwokerto, 02/07/2026 – Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., diundang sebagai narasumber dalam kegiatan Review Kurikulum Satuan Pendidikan dan In House Training yang diselenggarakan oleh MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang pada Kamis (2/7/2026). Dalam kegiatan tersebut, beliau diminta untuk memberikan materi mengenai Integrasi Aswaja An-Nahdliyah dalam Strategi Pengembangan Madrasah dan Pembelajaran, sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas penyelenggaraan pendidikan berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Kegiatan ini diikuti oleh kepala madrasah, guru, serta tenaga kependidikan MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang. Melalui forum tersebut, para peserta diajak untuk meninjau kembali kurikulum satuan pendidikan sekaligus memperdalam strategi implementasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam tata kelola madrasah maupun proses pembelajaran di kelas. Review kurikulum tidak hanya dipahami sebagai penyempurnaan dokumen administratif, tetapi juga sebagai momentum untuk memastikan bahwa visi pendidikan madrasah tetap selaras dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas keislaman dan nilai-nilai ke-NU-an.
Dalam pemaparannya, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa Aswaja An-Nahdliyah tidak cukup dipahami sebagai identitas organisasi semata, tetapi merupakan manhaj al-fikr atau metode berpikir yang menjadi landasan dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, paradigma tersebut berpijak pada tiga pilar utama, yaitu akidah, syariah, dan tasawuf, yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi muslim yang utuh serta mampu menghadapi tantangan kehidupan secara bijaksana.

Lebih lanjut, Prof. Fauzi menguraikan bahwa penguatan nilai Aswaja di lingkungan madrasah harus diwujudkan melalui karakter pendidikan yang mengedepankan sikap moderat, menghargai tradisi yang sejalan dengan syariat, menjunjung tinggi sanad keilmuan, serta membangun budaya dialog dan kebersamaan. Nilai-nilai dasar seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), dan amar ma’ruf nahi munkar menjadi fondasi yang harus tercermin dalam budaya organisasi, kepemimpinan, maupun interaksi sehari-hari di lingkungan madrasah.
Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan integrasi Aswaja An-Nahdliyah tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi pada mata pelajaran tertentu. Nilai-nilai tersebut harus menjadi ruh dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga hadir dalam setiap kebijakan dan aktivitas madrasah. Oleh karena itu, penyusunan visi, misi, tujuan, hingga program kerja madrasah perlu secara eksplisit mengakomodasi semangat Aswaja An-Nahdliyah agar menjadi arah bersama dalam pengembangan lembaga pendidikan.
Pada aspek pembelajaran, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa internalisasi nilai-nilai Aswaja dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang kontekstual dan aplikatif. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam menanamkan karakter kepada peserta didik. Karena itu, strategi seperti uswah hasanah (keteladanan), pembiasaan, musyawarah, pembelajaran berbasis proyek, serta pendekatan afektif dan reflektif dinilai mampu membantu peserta didik memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari.
Selain membahas implementasi di ruang kelas, Prof. Fauzi juga mengajak peserta melihat pengembangan madrasah secara lebih komprehensif. Menurutnya, budaya Aswaja harus menjadi identitas kelembagaan yang tercermin dalam tata kelola organisasi, pembinaan peserta didik, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, hingga penguatan kemitraan dengan masyarakat dan lembaga-lembaga Nahdlatul Ulama. Dengan demikian, madrasah tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki karakter keislaman yang kuat, moderat, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di tengah masyarakat yang majemuk.

Menutup pemaparannya, Prof. Fauzi menegaskan bahwa dokumen kurikulum yang baik tidak akan memberikan dampak nyata apabila tidak diiringi dengan komitmen seluruh warga madrasah. Kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik perlu memiliki semangat yang sama dalam mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah sehingga benar-benar menjadi budaya yang hidup dalam keseharian. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, moderat, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Keikutsertaan Dekan FTIK UIN SAIZU sebagai narasumber dalam kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen fakultas dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di lingkungan madrasah. Sebagai institusi yang berfokus pada pengembangan ilmu kependidikan, FTIK terus berupaya membangun sinergi dengan berbagai lembaga pendidikan melalui kegiatan akademik, pendampingan, dan penguatan kapasitas pendidik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan hasil review kurikulum tidak hanya menghasilkan penyempurnaan dokumen satuan pendidikan, tetapi juga mampu mendorong lahirnya praktik pembelajaran yang lebih bermakna, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah.