Skip to main content

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Gandeng Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), FTIK UIN Saizu Bekali Ratusan Calon Mahasiswa Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi melalui Workshop Kurikulum Merdeka

WhatsApp Image 2026-07-16 at 01.24.09
BeritaPendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Gandeng Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), FTIK UIN Saizu Bekali Ratusan Calon Mahasiswa Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi melalui Workshop Kurikulum Merdeka

Purwokerto, 06/07/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto terus memperkuat komitmennya dalam menyiapkan calon guru yang profesional, adaptif, dan siap menjawab tantangan pendidikan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Persiapan Mengajar Menggunakan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar yang diselenggarakan pada Senin (6/7/2026) di Auditorium Utama UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.

Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian pembekalan bagi mahasiswa peserta Program Asistensi Mengajar dan Magang Terntegrasi Angkatan III sebelum diterjunkan ke sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Banjarnegara selama satu semester. Kegiatan dihadiri Rektor UIN SAIZU Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag., Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Banjarnegara beserta jajaran, pimpinan FTIK, dosen, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), serta ratusan mahasiswa peserta program.

Dalam sambutannya, Dekan FTIK UIN SAIZU Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menjelaskan bahwa program asistensi mengajar merupakan implementasi nyata pembelajaran yang menghubungkan dunia kampus dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, program tersebut lahir dari kolaborasi antara FTIK dan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjarnegara sebagai respons atas masih tingginya kebutuhan tenaga pendidik di sekolah dasar.

“Kegiatan ini merupakan bentuk simbiosis mutualisme. Dari sisi akademik, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang nyata, sedangkan sekolah mendapatkan dukungan tenaga pendidik untuk membantu proses pembelajaran,” ujarnya.

Prof. Fauzi menjelaskan bahwa gagasan tersebut bermula dari komunikasi antara FTIK dan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjarnegara mengenai kondisi kekurangan guru di sejumlah sekolah dasar. Dari diskusi tersebut lahirlah skema kolaboratif yang memanfaatkan Program Asistensi Mengajar dalam Kurikulum Merdeka sebagai solusi bersama.

Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Kepercayaan dari pemerintah daerah terus meningkat, ditandai dengan bertambahnya jumlah mahasiswa yang dilibatkan setiap tahun serta semakin luasnya sekolah yang menjadi lokasi penempatan.

Menurut Prof. Fauzi, pengalaman belajar di sekolah selama enam bulan memberikan nilai yang jauh lebih besar dibandingkan praktik lapangan yang hanya berlangsung dalam waktu singkat. Selama satu semester mahasiswa akan berhadapan langsung dengan dinamika pendidikan sehingga memperoleh pengalaman profesional yang utuh sebagai calon guru.

“Selama enam bulan mahasiswa akan belajar langsung di sekolah. Pengalaman ini tentu berbeda dengan praktik lapangan yang hanya berlangsung beberapa minggu. Mereka akan merasakan secara langsung bagaimana menjadi seorang pendidik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh aktivitas mahasiswa selama mengikuti program akan memperoleh rekognisi akademik melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program tersebut dikonversi menjadi sekitar 24 SKS, yang mencakup kegiatan asistensi mengajar, praktik pengalaman lapangan, serta komponen akademik lainnya.

Pada Angkatan III, sebanyak 295 mahasiswa mengikuti program tersebut, terdiri atas 218 mahasiswa Program Studi PGMI dan 77 mahasiswa Program Studi PAI. Mereka akan ditempatkan di 164 Sekolah Dasar Negeri yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Banjarnegara sesuai kebutuhan sekolah.

Prof. Fauzi menegaskan bahwa selama menjalankan program, mahasiswa mengemban dua tanggung jawab sekaligus, yakni sebagai pembelajar dan sebagai pengabdi.

“Mahasiswa datang ke sekolah dengan dua misi. Mereka belajar sebagai bagian dari proses akademik, tetapi pada saat yang sama juga mengabdi sebagai calon guru yang mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik,” tegasnya.

Ia juga memberikan tiga pesan utama yang harus menjadi pegangan mahasiswa selama berada di sekolah, yaitu menjaga etika, terus mengembangkan kemampuan, serta menunjukkan performa terbaik. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun profesionalisme seorang guru.

Menurutnya, kemampuan akademik saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan etika yang baik. Sebagai mahasiswa UIN SAIZU sekaligus calon pendidik, mahasiswa harus mampu menjadi teladan melalui sikap, perilaku, maupun cara berkomunikasi dengan warga sekolah.

Selain pembekalan mengenai implementasi Kurikulum Merdeka, FTIK juga menggandeng Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) untuk memberikan penguatan mengenai strategi pembelajaran yang kreatif dan berpusat pada peserta didik. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan berbagai pendekatan pembelajaran inovatif sehingga proses belajar di kelas menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna.

“Hari ini pendidikan membutuhkan inovasi dan kreativitas. Karena itu kami menggandeng Gerakan Sekolah Menyenangkan agar mahasiswa memiliki bekal menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan ketika berada di sekolah,” kata Prof. Fauzi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Banjarnegara menyampaikan apresiasi atas komitmen FTIK UIN SAIZU yang secara konsisten mendukung peningkatan kualitas pendidikan di daerah melalui Program Asistensi Mengajar.

Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Banjarnegara masih menghadapi tantangan besar di bidang pendidikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) memang telah mencapai 70,69, namun rata-rata lama sekolah masyarakat masih berada pada kisaran 7,10 tahun, sehingga berbagai upaya perlu terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Di sisi lain, kebutuhan tenaga pendidik juga masih sangat tinggi. Dari kebutuhan sekitar 5.564 guru, baru tersedia sekitar 3.387 guru, sehingga masih terdapat kekurangan lebih dari 2.100 guru di berbagai sekolah.

“Karena itulah kami terus membangun kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi. Program Asistensi Mengajar ini menjadi salah satu solusi nyata untuk membantu sekolah-sekolah yang masih mengalami kekurangan guru,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa akan mulai bertugas sejak awal Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Selama enam bulan mereka tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah, mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, hingga proses evaluasi hasil belajar peserta didik.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa bukan sekadar memenuhi kekurangan guru, melainkan juga membawa semangat baru, kreativitas, dan inovasi yang dapat memperkaya proses pembelajaran di sekolah dasar.

Selain mendukung sekolah, program tersebut juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa karena mereka memperoleh kesempatan merasakan secara langsung kehidupan sebagai seorang guru sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.

Workshop turut menghadirkan materi mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dan strategi pembelajaran inovatif yang disampaikan oleh narasumber dari Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Berbagai pendekatan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik diperkenalkan agar mahasiswa mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, sekaligus tetap berorientasi pada pencapaian kompetensi.

Muhammad Nur Rizal, Ph.D., Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) sekaligus dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada. Dalam paparannya, ia mengajak para mahasiswa untuk merefleksikan kembali makna pendidikan serta peran guru di tengah perubahan zaman.

Mengawali materinya, Muhammad Nur Rizal mengajukan sebuah pertanyaan reflektif kepada seluruh peserta, “Apakah sekolah berhasil membuat kita benar-benar belajar?” Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi, baik di Indonesia maupun dunia.

Ia menjelaskan bahwa persoalan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya peserta didik yang hadir di sekolah ataupun tingginya capaian administrasi. Pendidikan harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna sehingga peserta didik berkembang sebagai manusia yang utuh.

Dalam pemaparannya, Muhammad Nur Rizal juga menampilkan sejumlah data yang menunjukkan masih adanya tantangan besar dalam kualitas pembelajaran. Salah satunya ialah rendahnya kemampuan numerasi yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa masih mengalami kesulitan menyelesaikan soal matematika tingkat sekolah dasar. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari lamanya seseorang bersekolah, tetapi dari kualitas proses belajar yang dialami.

Lebih lanjut, ia menyoroti masih kuatnya budaya pendidikan yang berorientasi pada formalitas administratif dibandingkan dampak pembelajaran bagi peserta didik. Menurutnya, sekolah perlu bertransformasi agar tidak hanya berfokus pada penyelesaian administrasi, melainkan benar-benar menghadirkan pembelajaran yang membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir peserta didik.

Sebagai bagian dari refleksi tersebut, Muhammad Nur Rizal memperlihatkan bagaimana sejumlah negara telah mengubah paradigma pendidikan dari sekolah yang hanya menjadi tempat penyampaian materi menjadi komunitas belajar yang mendorong lahirnya peserta didik yang percaya diri, kreatif, aktif sebagai warga negara, serta memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan, ia menegaskan bahwa sekolah pada hakikatnya merupakan ruang bagi setiap anak untuk bertumbuh. Karena itu, proses pembelajaran perlu dibangun melalui dialog, kolaborasi, serta lingkungan yang memberikan rasa aman sehingga peserta didik terdorong untuk belajar secara alami, bukan karena tekanan ataupun kontrol semata.

Materi tersebut mendapat perhatian besar dari para mahasiswa peserta workshop. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai implementasi Kurikulum Merdeka, strategi membangun budaya belajar yang menyenangkan, hingga tantangan yang akan dihadapi mahasiswa selama menjalankan Program Asistensi Mengajar di sekolah dasar.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi pembekalan. Diskusi interaktif antara narasumber dan mahasiswa menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kesiapan peserta sebelum diterjunkan ke sekolah.

Melalui penyelenggaraan Workshop Persiapan Mengajar Menggunakan Kurikulum Merdeka ini, FTIK UIN SAIZU menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembelajaran yang berdampak. Tidak hanya membentuk lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan calon guru yang memiliki integritas, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan pendidikan di masyarakat. Kolaborasi yang terus terjalin antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas pendidikan diharapkan mampu menjadi model sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menjawab kebutuhan tenaga pendidik di daerah.