PGMI UIN Saizu Jalani Asesmen Lapangan LAMDIK
11/05/2026 2026-05-17 10:35PGMI UIN Saizu Jalani Asesmen Lapangan LAMDIK
Purwokerto, 11/05/2026 – Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan dasar dan transformasi pendidikan tinggi kependidikan di Indonesia, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menjalani asesmen lapangan akreditasi oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) pada 11–12 Mei 2026.
Asesmen ini bukan sekadar agenda administratif untuk mempertahankan status unggul yang sebelumnya telah diraih, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar perguruan tinggi dalam memastikan kualitas calon guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah tetap relevan di tengah perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan pendidikan masa depan. Dua asesor LAMDIK, yakni Dr. Siti Annisah, M.Pd. dari Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung dan Dr. Iis Nurasiah, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi, hadir untuk melakukan verifikasi menyeluruh terhadap tata kelola program studi, kualitas akademik, layanan pendidikan, hingga ketercapaian luaran lulusan.
Kegiatan pembukaan asesmen lapangan dihadiri Rektor UIN Saizu Purwokerto Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag., Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., LPM, LPPM, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga alumni PGMI.
Dalam sambutannya, Dekan FTIK UIN Saizu, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menegaskan bahwa akreditasi tidak dapat dipahami hanya sebagai proses penilaian dokumen, tetapi harus menjadi instrumen refleksi dan penguatan mutu pendidikan guru secara berkelanjutan.
“Kita tidak boleh berhenti pada capaian administratif. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana program studi mampu memastikan kualitas lulusan benar-benar berdampak di ruang kelas dan di masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan pendidikan guru saat ini jauh lebih kompleks dibanding satu dekade lalu. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori pembelajaran, tetapi juga dituntut melahirkan calon guru yang adaptif, humanis, dan mampu menghadapi perubahan zaman.
“Dunia pendidikan sedang berubah sangat cepat. Guru hari ini tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga membangun karakter, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan sensitivitas sosial peserta didik. Karena itu, program studi juga harus terus bertransformasi,” katanya.
Prof. Fauzi menjelaskan, PGMI merupakan salah satu program studi dengan sejarah panjang di lingkungan FTIK UIN Saizu. Program ini bermula dari Diploma II pada masa STAIN Purwokerto sebelum resmi berkembang menjadi program studi sarjana pada 2007.
Dalam perjalanannya, PGMI mengalami penguatan signifikan, baik dari sisi jumlah peminat, kualitas sumber daya manusia, maupun pengembangan tata kelola akademik. Saat ini, lebih dari separuh dosen PGMI telah berkualifikasi doktor dan diperkuat oleh guru besar di bidang pendidikan.
“Peningkatan kualitas tidak bisa dilakukan secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang, mulai dari penguatan SDM, budaya mutu, layanan akademik, hingga evaluasi berkelanjutan melalui siklus PPEPP,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag., menilai asesmen lapangan menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk memastikan bahwa transformasi kelembagaan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas akademik.
Menurutnya, perubahan status UIN Saizu dari STAIN menjadi IAIN, lalu bertransformasi menjadi universitas, membawa konsekuensi besar terhadap penguatan tata kelola, sarana akademik, serta daya saing lulusan.
“Transformasi kelembagaan harus diikuti transformasi kualitas. Perguruan tinggi tidak bisa hanya berkembang pada nama dan struktur, tetapi juga harus berkembang pada kualitas layanan, kualitas pembelajaran, dan kualitas lulusannya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa akreditasi merupakan bentuk rekognisi publik terhadap kualitas institusi pendidikan tinggi. Karena itu, proses asesmen perlu dipandang sebagai ruang evaluasi untuk memperkuat sistem, bukan sekadar mempertahankan predikat.
“Akreditasi sejatinya adalah cermin mutu. Dari situ kita bisa melihat sejauh mana institusi mampu memberikan layanan pendidikan terbaik bagi masyarakat,” katanya.
Rektor juga menyoroti pentingnya peran PGMI dalam menjawab kebutuhan pendidikan dasar di Indonesia, khususnya dalam menyiapkan guru madrasah yang mampu bersaing di era digital tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman.
Di sisi lain, suasana asesmen lapangan berlangsung cair dan reflektif. Asesor LAMDIK, Dr. Siti Annisah, M.Pd., menegaskan bahwa kehadiran asesor bukan untuk mencari kekurangan institusi, melainkan melakukan pemotretan objektif terhadap kondisi nyata program studi.
“Kami datang bukan untuk mencari kesalahan. Tugas kami adalah memotret kondisi program studi dan melihat sejauh mana praktik di lapangan selaras dengan dokumen yang telah disusun,” ujarnya.

Menurutnya, asesmen lapangan perlu dipahami sebagai bagian dari budaya akademik dan budaya mutu yang sehat di perguruan tinggi.
“Asesmen adalah ruang refleksi bersama. Dari proses ini, perguruan tinggi bisa melihat kekuatan yang dimiliki sekaligus area yang masih perlu diperkuat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi perkembangan PGMI FTIK UIN Saizu yang dinilai menunjukkan komitmen kuat terhadap penguatan kualitas layanan akademik dan tata kelola program studi.
Selama dua hari pelaksanaan asesmen, asesor melakukan serangkaian agenda mulai dari verifikasi dokumen, wawancara bersama pimpinan universitas dan fakultas, diskusi dengan dosen, mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, hingga peninjauan fasilitas penunjang pembelajaran.
Di luar proses formal asesmen, atmosfer kolektif terlihat kuat di lingkungan PGMI. Dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni tampak terlibat aktif dalam mendukung jalannya asesmen lapangan. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa mutu pendidikan tinggi tidak dibangun oleh individu, melainkan oleh kultur akademik yang tumbuh secara bersama-sama.
Bagi PGMI FTIK UIN Saizu, asesmen lapangan ini menjadi lebih dari sekadar proses reakreditasi. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga relevansi pendidikan guru di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.
Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21, disrupsi digital, hingga meningkatnya tuntutan kompetensi guru, lembaga pendidikan tenaga kependidikan dituntut untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif, reflektif, dan berorientasi pada kemanusiaan.
Karena itu, asesmen lapangan bukan akhir dari proses peningkatan mutu, melainkan bagian dari perjalanan panjang perguruan tinggi dalam menjaga kualitas pendidikan dan membangun kepercayaan publik terhadap profesi guru di masa depan.