Skip to main content

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Melalui Dialog RRI, FTIK UIN Saizu Tekankan Pentingnya Transformasi Holistik dalam Sekolah Nasional Terintegrasi

Screenshot (597)
Berita

Melalui Dialog RRI, FTIK UIN Saizu Tekankan Pentingnya Transformasi Holistik dalam Sekolah Nasional Terintegrasi

Purwokerto,30/07/2026 – Gagasan pembentukan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam mempercepat peningkatan mutu pendidikan nasional. Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur yang megah, melainkan juga oleh kesiapan sumber daya manusia, desain pembelajaran yang holistik, serta kolaborasi berbagai pemangku kebijakan dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.

Pandangan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., saat menjadi narasumber dalam Dialog Purwokerto Menyapa yang diselenggarakan RRI Purwokerto, Kamis (30/7/2026). Mengangkat tema “Sekolah Nasional Terintegrasi Banyumas, Sejauh Mana Kesiapannya?”, dialog tersebut juga menghadirkan Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Taryono, S.T., M.P.A., yang memaparkan kesiapan Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam mengimplementasikan program nasional tersebut.

Dalam dialog yang berlangsung interaktif itu, Prof. Fauzi mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa setiap inisiatif pemerintah untuk melakukan transformasi pendidikan patut diapresiasi sebagai bagian dari ikhtiar besar dalam melahirkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

“Setiap upaya melakukan transformasi mutu pendidikan dalam rangka melahirkan sumber daya manusia yang unggul patut kita apresiasi. Gagasan-gagasan besar di bidang pendidikan membutuhkan kesungguhan dan keberanian untuk menemukan formula baru agar kita benar-benar memiliki sistem pendidikan yang mampu melahirkan SDM berkualitas,” ujar Prof. Fauzi.

Menurutnya, secara akademik konsep Sekolah Nasional Terintegrasi memiliki pijakan yang kuat karena membawa paradigma pendidikan yang lebih utuh dibandingkan model pembelajaran yang selama ini masih cenderung berjalan secara terpisah antarsatuan maupun antarjenjang pendidikan.

beliau menjelaskan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi harus mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara menyeluruh melalui pendekatan holistic education.

“Pendidikan harus dibangun dengan perspektif holistik, yaitu mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, sosial, spiritual, etika, estetika, hingga jasmani. Jika pendidikan mampu mengembangkan seluruh dimensi tersebut secara seimbang, itulah sesungguhnya pendidikan yang dibutuhkan bangsa ini,” jelasnya.

Prof. Fauzi menilai konsep keterpaduan yang diusung SNT menjadi peluang untuk memperbaiki persoalan klasik pendidikan Indonesia yang selama ini masih bersifat fragmentatif. Menurutnya, kesinambungan pembelajaran antarjenjang harus dibangun melalui kurikulum yang saling terintegrasi sehingga peserta didik tidak lagi mengalami pengulangan materi maupun kesenjangan kompetensi ketika berpindah dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.

“Kurikulum perlu didesain secara integratif agar ada continuity, ada kesinambungan antarjenjang. Jangan sampai peserta didik terus mengulang hal yang sama atau justru mengalami lompatan materi yang terlalu jauh. Pendidikan harus dibangun sebagai sebuah proses yang utuh,” katanya.

Lebih lanjut, Prof. Fauzi menegaskan bahwa keberhasilan implementasi Sekolah Nasional Terintegrasi sangat bergantung pada tiga transformasi utama yang harus dipersiapkan secara matang.

Transformasi pertama adalah infrastruktur pendidikan. Menurutnya, pembangunan fasilitas belajar harus mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang benar-benar mendukung lahirnya pembelajaran berkualitas, mulai dari ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, hingga dukungan teknologi informasi.

Transformasi kedua adalah sumber daya manusia, yang menurutnya merupakan faktor paling menentukan keberhasilan program tersebut.

“Apapun konsep dan desain pendidikan yang dihadirkan, berhasil atau tidak akan sangat ditentukan oleh siapa yang menjalankannya,” tegasnya.

Prof. Fauzi menjelaskan bahwa sumber daya manusia dalam Sekolah Nasional Terintegrasi tidak hanya berbicara tentang guru, tetapi juga mencakup kepemimpinan sekolah dan tenaga kependidikan yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.

beliau menilai kepala sekolah yang memimpin SNT harus memiliki paradigma kepemimpinan transformatif, mampu membaca perubahan, menciptakan inovasi, sekaligus memahami karakteristik peserta didik dari dua jenjang pendidikan yang berbeda karena SNT mengintegrasikan pendidikan SMP dan SMA dalam satu sistem.

“Ini membutuhkan pemimpin yang memiliki cara berpikir transformatif, mampu menangkap peluang sekaligus menciptakan peluang baru. Pola rekrutmen kepala sekolah juga harus berbeda karena yang dipimpin bukan sekolah biasa, melainkan sebuah proyek strategis pengembangan pendidikan nasional,” ungkapnya.

Selain kepemimpinan, Prof. Fauzi memberikan perhatian besar terhadap kualitas guru yang akan mengajar di Sekolah Nasional Terintegrasi. Menurutnya, sekolah unggulan memerlukan guru-guru dengan kompetensi di atas rata-rata, tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, kemampuan komunikasi, kreativitas, serta semangat belajar yang tinggi.

“Jangan sampai gurunya masih berpikir fragmentatif. Guru di Sekolah Nasional Terintegrasi harus memiliki spirit holistik, soft skills yang unggul, dan kompetensi yang melampaui standar umum. Mereka akan mendampingi peserta didik yang memiliki potensi luar biasa sehingga kualitas gurunya juga harus luar biasa,” ujarnya.

beliau menambahkan bahwa tenaga kependidikan pun harus dipersiapkan secara profesional. Menurutnya, pelayanan administrasi dan dukungan nonakademik merupakan bagian penting dalam menciptakan budaya sekolah yang kondusif.

“Tenaga kependidikan tidak cukup hanya mampu bekerja secara administratif. Mereka harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kreatif, inovatif, cepat bekerja, dan mampu menciptakan iklim sekolah yang sehat,” katanya.

Transformasi ketiga yang tidak kalah penting, lanjut Prof. Fauzi, adalah transformasi pembelajaran melalui desain kurikulum yang benar-benar mendukung lahirnya pendidikan holistik.

Menurutnya, kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi harus menjadi instrumen yang mampu mengembangkan kemampuan intelektual sekaligus karakter, kreativitas, spiritualitas, kepemimpinan, dan keterampilan sosial peserta didik sehingga lulusan yang dihasilkan benar-benar siap menghadapi tantangan global.

Sementara itu, Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Taryono, S.T., M.P.A., menjelaskan bahwa Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan program baru pemerintah berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang percepatan peningkatan mutu pendidikan melalui Sekolah Nasional Terintegrasi.

Menurutnya, program tersebut dirancang untuk menghadirkan satuan pendidikan berstandar nasional yang nantinya menjadi pusat pengembangan mutu pendidikan di daerah.

“Sekolah Nasional Terintegrasi bukan sekadar membangun sekolah baru, tetapi membangun ekosistem pendidikan baru yang terintegrasi dari sisi mutu, manajemen, data, hingga penggunaan teknologi informasi,” jelas Taryono.

beliau mengungkapkan bahwa Banyumas menjadi salah satu daerah yang dipercaya pemerintah pusat untuk mengoperasikan program tersebut pada tahun pertama pelaksanaannya.

Dari 144 kabupaten/kota yang mengajukan pembangunan SNT, hanya 37 daerah yang lolos seleksi pembangunan. Dari jumlah tersebut, 17 kabupaten/kota dinyatakan siap mengoperasikan sekolah pada tahun 2026, termasuk Kabupaten Banyumas.

“Di Jawa Tengah, baru Banyumas dan Jepara yang mulai mengoperasikan Sekolah Nasional Terintegrasi tahun ini,” jelasnya.

Taryono menerangkan bahwa SNT Banyumas akan dibangun di kawasan Bumi Perkemahan Kendalisada dengan luas lahan lebih dari 20 hektare. Kawasan tersebut akan dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti laboratorium, gedung olahraga, gedung seni, lapangan sepak bola berstandar nasional, kolam renang, hingga Teaching and Learning Center yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan kompetensi guru.

beliau juga menegaskan bahwa pengembangan kurikulum di SNT tidak hanya menggunakan Kurikulum Nasional, tetapi diperkaya dengan kurikulum kekhasan sekolah serta kurikulum berbasis konteks lokal. Selain itu, pendekatan pembelajaran akan dikembangkan melalui konsep STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sport) untuk memperkuat kompetensi peserta didik secara lebih komprehensif.

Menanggapi pertanyaan masyarakat mengenai urgensi pembangunan sekolah baru di tengah masih banyaknya sekolah yang membutuhkan peningkatan mutu, Prof. Fauzi menegaskan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan lompatan besar di bidang pendidikan agar mampu mengejar perubahan global yang berlangsung sangat cepat.

Menurutnya, pembangunan sekolah unggulan tidak boleh dipahami sebagai bentuk pengabaian terhadap sekolah lain, melainkan sebagai pemantik yang dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara lebih luas.

“Mutu, pemerataan, dan produktivitas harus berjalan bersama. Sekolah unggulan dibutuhkan untuk mempercepat lahirnya talenta-talenta terbaik bangsa, tetapi pada saat yang sama seluruh sekolah dan madrasah tetap harus didorong agar memiliki mutu yang baik,” tegasnya.

beliau mencontohkan keberhasilan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) yang kini berkembang di berbagai daerah sebagai bukti bahwa sekolah unggulan dapat menjadi model pengembangan pendidikan nasional sekaligus memberikan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan di sekitarnya.

Prof. Fauzi juga mengingatkan bahwa investasi besar yang diberikan pemerintah terhadap SNT harus diikuti dengan ukuran produktivitas yang jelas sehingga manfaatnya dapat benar-benar dirasakan masyarakat.

“Sekolah Nasional Terintegrasi membutuhkan investasi yang besar. Karena itu harus ada indikator produktivitas yang terukur agar benar-benar mampu melahirkan sumber daya manusia unggul yang menjadi kebanggaan bangsa,” katanya.

Menutup dialog, Prof. Fauzi mengajak seluruh masyarakat Banyumas untuk mendukung implementasi Sekolah Nasional Terintegrasi sebagai bagian dari transformasi pendidikan nasional. Ia juga mendorong pemerintah untuk memastikan seluruh proses penyelenggaraan dilakukan dengan standar mutu yang tinggi serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, akademisi, tokoh masyarakat, dan dunia pendidikan.

“Kita perlu menyambut baik program ini sebagai bagian dari ikhtiar besar meningkatkan mutu pendidikan nasional. Namun, sejak awal seluruh prosesnya harus ditata dengan sungguh-sungguh, mulai dari pendirian, rekrutmen, hingga penyelenggaraannya. Jangan sampai Sekolah Nasional Terintegrasi menjadi institusi yang elitis. Libatkan perguruan tinggi, para pakar, tokoh masyarakat, dan seluruh stakeholder agar benar-benar menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang kuat,” pungkasnya.

Melalui dialog tersebut, FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto kembali menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan kebijakan pendidikan nasional. Sebagai lembaga yang mencetak calon pendidik dan tenaga kependidikan, FTIK tidak hanya berperan dalam menyiapkan guru profesional, tetapi juga aktif memberikan pemikiran akademik terhadap berbagai kebijakan strategis demi terwujudnya sistem pendidikan Indonesia yang lebih bermutu, inklusif, dan berdaya saing global.