Skip to main content

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Memasuki Tahun Ke-Tiga Program Penanaman Pohon, FTIK UIN Saizu Serahkan 200 Bibit Pohon Buah!

WhatsApp Image 2026-08-21 at 15.08.34
Berita

Memasuki Tahun Ke-Tiga Program Penanaman Pohon, FTIK UIN Saizu Serahkan 200 Bibit Pohon Buah!

Purwokerto, 21/08/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali meneguhkan komitmennya terhadap kepedulian lingkungan melalui Gerakan FTK Menanam 1000 Pohon. Memasuki tahun ketiga pelaksanaan program, FTIK menyerahkan sebanyak 200 bibit pohon buah hasil donasi mahasiswa baru FTIK tahun 2026 kepada masyarakat di Perumahan Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumbang, Jumat (21/8/2026).

Penyerahan bibit tersebut sekaligus dirangkai dengan penanaman pohon secara simbolik sebagai penanda dimulainya pemanfaatan dan perawatan bibit oleh masyarakat. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya FTIK untuk mengajak mahasiswa tidak hanya memahami persoalan lingkungan secara akademik, tetapi juga mengambil bagian secara langsung dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di tengah masyarakat.

Dekan FTIK UIN Saizu, Prof. Dr. Fauzi, M.Ag., hadir bersama jajaran Wakil Dekan dan Kepala Bagian Tata Usaha FTIK. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Desa Tambaksogra, Ketua RW, para Ketua RT, serta unsur masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Prof. Fauzi menegaskan bahwa gerakan menanam pohon bukan sekadar agenda penghijauan. Program tersebut sejak awal dirancang sebagai bagian dari pendidikan kepedulian mahasiswa terhadap persoalan kehidupan yang semakin kompleks, khususnya persoalan ketahanan pangan dan ketahanan ekologis.

“Program ini kami canangkan tiga tahun yang lalu. Ini tahun ketiga, dalam tema Gerakan FTK Menanam 1000 Pohon. Insyaallah dalam periode kami, 1.000 itu akan tertanam,” ujar beliau.

Menurut Prof. Fauzi, pelibatan mahasiswa baru dalam program tersebut berangkat dari upaya menghadirkan bentuk kegiatan yang lebih edukatif dan produktif. Mahasiswa baru tidak hanya diarahkan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas awal perkuliahan, tetapi juga diajak membangun kepedulian melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Beliau menjelaskan, mahasiswa diberikan ruang untuk berdonasi dalam bentuk bibit tanaman. Dengan demikian, kontribusi mahasiswa tidak berhenti pada sesuatu yang bersifat sementara, tetapi diwujudkan dalam bentuk yang dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Daripada mereka membeli ini-itu, atribut-atribut yang kadang kala mungkin tidak edukatif, tidak produktif, tidak bermanfaat, maka kami sentuh mereka untuk siapa yang mau berdonasi, berdonasi tanaman,” ujarnya.

Bagi FTIK, satu bibit pohon tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga mengandung nilai sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan keagamaan. Terlebih pohon yang ditanam merupakan pohon buah yang ketika tumbuh dan menghasilkan buah dapat memberikan manfaat kepada banyak makhluk.

Prof. Fauzi mengaitkan gerakan tersebut dengan konsep amal jariyah dalam ajaran Islam. Menurutnya, menanam pohon dapat menjadi bentuk sedekah yang manfaatnya terus mengalir ketika pohon tersebut tumbuh, menghasilkan buah, dan dimanfaatkan oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya.

“Kalau pohon ini, apalagi pohon buah, kalau kemudian berbuah, dimakan hewan, dimakan burung-burung juga sedekah. Apalagi dimakan manusia,” tuturnya.

Ia bahkan menggambarkan manfaat pohon buah dari perspektif ketahanan ekonomi keluarga. Ketika tanaman tumbuh besar dan menghasilkan panen, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Syukur kalau panennya banyak, bermanfaat, bisa dijual, bisa membantu UKT. Kita jangan meremehkan satu batang pohon duren. Kalau tumbuh besar, panennya banyak, bisa untuk bayar UKT, atau setidaknya bisa nyangoni anak,” ujarnya dengan disambut respon baik.

Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa gerakan menanam pohon yang dibangun FTIK tidak dimaksudkan sebagai kegiatan simbolik semata. Ada harapan agar bibit yang diserahkan benar-benar dirawat hingga tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Prof. Fauzi menyebut gerakan tersebut juga lahir dari kesadaran bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai persoalan ekologis. Pemanasan global, krisis ekologi, dan persoalan ketahanan pangan menjadi tantangan yang tidak dapat hanya diselesaikan melalui kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.

“Makanya di situlah filosofi kami ingin mendidik para mahasiswa kami untuk lebih peka terhadap tantangan kehidupan yang sekarang dihadapi oleh dunia global. Ada problem pemanasan global, ada krisis ekologi, tak terkecuali adalah problem ketahanan pangan,” jelasnya.

Karena itu, kegiatan menanam pohon ditempatkan sebagai sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Nilai yang diperoleh bukan sekadar pengetahuan tentang lingkungan, melainkan pengalaman untuk terlibat dalam aksi nyata dan membangun kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan.

Pemilihan wilayah Tambaksogra sebagai lokasi distribusi bibit juga dilakukan dengan pertimbangan keberlanjutan. Fauzi menyebut Kecamatan Sumbang memiliki posisi strategis sebagai salah satu wilayah penyangga Kota Purwokerto.

Menurutnya, distribusi bibit harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat dalam merawat tanaman. Bibit yang telah dikumpulkan mahasiswa akan menjadi sia-sia apabila tidak mendapatkan perawatan setelah diserahkan.

“Kalau saya kirim ke daerah yang tidak bisa merawat, nanti pada mati juga, eman-eman,” ujarnya.

Karena itu, penyerahan dilakukan lebih awal agar masyarakat memiliki kesempatan untuk menyiapkan perawatan sebelum bibit-bibit tersebut nantinya turut dibagikan dalam agenda masyarakat.

Beliau secara khusus meminta jajaran RW dan RT untuk ikut memastikan bibit yang diterima mendapatkan perawatan yang baik.

“Ini tugas Pak RW, Pak RT semuanya. Monggo didistribusikan. Mudah-mudahan meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, yang tidak banyak ini bisa menjadi momentum kita untuk bersama-sama,” katanya.

Lebih dari sekadar program lingkungan, Prof. Fauzi menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki dimensi keagamaan yang kuat. Ia menyebut gerakan menanam pohon sebagai salah satu bentuk konkret dari ekoteologi, yakni cara pandang keagamaan yang mendorong manusia untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kepada Allah.

“Kalau dalam bahasa Kementerian Agama itu namanya ekoteologi. Ini juga dalam rangka kita mengimplementasikan Asta Prioritas Menteri Agama, yaitu salah satunya terkait dengan ekoteologi,” jelasnya.

Dengan demikian, program penanaman pohon menjadi ruang bagi FTIK untuk menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam tindakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Mahasiswa tidak hanya diajak berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam.

Semangat tersebut juga sejalan dengan posisi FTIK sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab membentuk calon pendidik. Kepedulian ekologis diharapkan tidak berhenti pada mahasiswa sebagai individu, tetapi kelak dibawa ke lingkungan sekolah dan masyarakat ketika mereka menjalankan peran profesionalnya.

Ketua RW, Sarwono, menyambut baik kedatangan jajaran FTIK UIN Saizu. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai momentum awal untuk membangun hubungan yang lebih erat antara perguruan tinggi dengan masyarakat setempat.

Ia menyampaikan apresiasi karena FTIK telah memilih lingkungannya sebagai salah satu lokasi kegiatan sekaligus penerima bibit pohon.

“Terima kasih Pak Dekan beserta rombongan sudah berkenan hadir di tempat kami untuk mengawali hubungan baik, mengawali silaturahmi dengan masyarakat sekitar,” ujar Sarwono.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada momentum orientasi mahasiswa baru ataupun kegiatan penyerahan bibit. Masyarakat justru membuka ruang agar hubungan yang telah dimulai dapat berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai kegiatan lainnya.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat setempat tengah mempersiapkan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya adalah agenda jalan sehat yang direncanakan melibatkan masyarakat dari sejumlah wilayah.

Dalam kesempatan tersebut, Sarwono berharap FTIK dapat turut mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan tersebut. Baginya, keterlibatan perguruan tinggi akan menjadi bentuk nyata bahwa hubungan antara kampus dan masyarakat dapat berjalan secara dua arah.

“Ke depan harapan kami kegiatan-kegiatan seperti ini bisa terus berkelanjutan,” katanya.

Sarwono bahkan menyebut kehadiran FTIK sebagai langkah awal bagi UIN Saizu untuk berkiprah lebih jauh di wilayah Tambaksogra. Ia membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara masyarakat dan fakultas dalam berbagai agenda sosial dan kemasyarakatan.

Dukungan terhadap keberlanjutan kerja sama juga disampaikan Kepala Desa Tambaksogra. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada FTIK UIN Saizu atas perhatian dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, kerja sama antara desa dan perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti pada pembagian bibit pohon. Ia berharap hubungan tersebut dapat dikembangkan ke berbagai bidang lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Jangan berhenti di kerja samanya di sini saja, tapi dinanti-nantikan kerja sama baik di bidang penanaman ini dan juga di bidang-bidang yang lainnya,” ungkapnya.

Kepala desa juga membuka peluang agar hubungan tersebut berkembang ke bidang keagamaan. Harapan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran FTIK tidak hanya dipandang sebagai mitra dalam kegiatan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem masyarakat yang dapat berkontribusi dalam bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial.

Karena itu, penyerahan 200 bibit pohon tersebut diharapkan menjadi awal dari hubungan yang lebih panjang. Bibit yang ditanam secara simbolik menjadi penanda bahwa kerja sama FTIK dan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai satu kegiatan, tetapi tentang bagaimana sebuah gagasan dapat tumbuh, dirawat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Gerakan FTK Menanam 1000 Pohon Buah yang memasuki tahun ketiga pun diharapkan terus bergerak. Sebab, bagi FTIK, menanam pohon bukan semata menanam tanaman, melainkan menanam kepedulian, menanam keberlanjutan, sekaligus menanam kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Melalui keterlibatan mahasiswa baru, masyarakat, pemerintah desa, serta jajaran fakultas, gerakan tersebut menjadi bentuk nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam menjawab tantangan ekologis sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Pada akhirnya, 200 bibit yang diserahkan hari ini diharapkan tidak berhenti sebagai angka, tetapi tumbuh menjadi 200 titik manfaat yang terus hidup dan dirasakan masyarakat pada masa mendatang.