FTIK Tekankan Pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta dalam Pendidikan Madrasah
31/08/2026 2026-09-01 17:01FTIK Tekankan Pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta dalam Pendidikan Madrasah
Purwokerto,31/08/2026 — Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan penguasaan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter, membangun relasi yang sehat, menumbuhkan empati, serta memanusiakan peserta didik. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran yang disampaikan Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag. dalam seminar “Pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta bagi Guru Madrasah di Kota/Kabupaten Mojokerto”.
Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang dilaksanakan di Aula De Resort Hotel Mojokerto pada sabtu 29 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB hingga selesai. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para guru madrasah untuk melihat kembali hakikat pendidikan serta bagaimana proses pembelajaran dapat menghadirkan pengalaman yang lebih humanis bagi peserta didik.
Dalam pemaparannya, Prof. Fauzi mengawali pembahasan dengan pertanyaan mendasar mengenai tujuan pendidikan. Apakah pendidikan hanya bertujuan membuat anak menjadi pintar, atau lebih jauh membantu mereka menjadi manusia yang baik, berilmu, berkarakter, dan mampu hidup bersama orang lain?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk melihat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari materi yang mampu dikuasai peserta didik, nilai ulangan, maupun prestasi akademik. Lebih dari itu, pengalaman peserta didik selama berada di lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter.
Pendidikan, menurut materi yang disampaikan, tidak cukup hanya berorientasi pada pengetahuan, nilai, dan prestasi, tetapi juga harus memberikan perhatian terhadap karakter, relasi, empati, dan kemanusiaan.
Dari kerangka pemikiran tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diperkenalkan sebagai pendekatan yang menempatkan cinta kasih, empati, penghargaan terhadap kemanusiaan, toleransi, serta nilai moral sebagai fondasi dalam proses pendidikan. KBC tidak hanya berbicara mengenai apa yang diajarkan kepada peserta didik, tetapi juga menyangkut bagaimana seorang guru menghadirkan pembelajaran tersebut.
Prof. Fauzi menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah kurikulum baru. KBC lebih tepat dipahami sebagai cara pandang pendidikan, nilai yang diintegrasikan dalam pembelajaran, sekaligus budaya yang dibangun di lingkungan madrasah.
Dengan pendekatan tersebut, proses pembelajaran diharapkan tidak berhenti pada aktivitas guru menyampaikan materi dan siswa menerima informasi. Pembelajaran diarahkan menjadi sebuah proses yang memungkinkan peserta didik merasa aman, mengalami, memahami, merefleksikan, memaknai, dan kemudian melakukan sesuatu berdasarkan nilai yang dipelajari.
Perubahan paradigma tersebut menempatkan target pendidikan bukan hanya pada knowledge, tetapi juga character dan humanity. Dengan demikian, pembelajaran diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter dan kepedulian terhadap sesama.
KBC juga diarahkan untuk merespons berbagai persoalan pendidikan dan sosial, seperti dehumanisasi, intoleransi, konflik sosial, kekerasan, perundungan, diskriminasi, serta krisis moral dan karakter. Pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas, tetapi juga manusia yang berintegritas, humanis, toleran, dan berkarakter.
Dalam materi seminar tersebut, KBC juga disebut memiliki dasar utama berupa Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
Salah satu bagian penting dalam materi yang disampaikan Prof. Fauzi adalah konsep Panca Cinta. Lima nilai tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu, cinta kepada diri dan sesama manusia, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada tanah air.
Kelima nilai tersebut menjadi dasar untuk membentuk profil peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Cinta kepada tanah air diarahkan untuk membentuk pribadi yang nasionalis, cinta kepada sesama manusia menumbuhkan sikap humanis, cinta kepada lingkungan melahirkan pribadi yang naturalis, sementara penghargaan terhadap perbedaan membangun sikap toleran. Keseluruhan nilai tersebut bermuara pada pembentukan manusia yang menjalani kehidupan dengan kasih sayang dan kepedulian.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berbasis cinta tidak dimaksudkan sekadar menambahkan materi tentang cinta ke dalam pembelajaran. Cinta justru ditempatkan sebagai nilai yang menghidupkan seluruh proses pendidikan.
Dalam konteks penerapannya di madrasah, Prof. Fauzi mengajak para pendidik membayangkan lingkungan pendidikan yang diharapkan bersama. Madrasah ideal adalah tempat di mana siswa merasa diterima, tidak takut untuk belajar, guru dan siswa saling menghargai, serta proses belajar mampu menghadirkan pengalaman yang positif.
Karena itu, lingkungan madrasah diharapkan mampu menghadirkan empat karakter utama, yakni aman, nyaman, ramah, dan menyenangkan.
Lingkungan semacam itu menjadi penting karena hubungan antara guru dan peserta didik bukan sekadar hubungan antara penyampai dan penerima materi. Interaksi yang terjadi setiap hari dapat memberikan pengaruh terhadap pengalaman dan pembentukan karakter peserta didik.
Dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta, guru diharapkan mampu menghadirkan ruang belajar yang membuat peserta didik merasa dihargai sekaligus memiliki keberanian untuk berkembang.
Selain pendekatan pembelajaran, Prof. Fauzi memberikan perhatian khusus terhadap posisi guru sebagai teladan. Pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan juga proses pembentukan karakter menuju insan kamil.
Dalam materi yang disampaikan, keteladanan dan cinta disebut memiliki posisi penting dalam pendidikan. Al-Qur’an melalui kisah Luqman dalam QS. Luqman ayat 12–19, misalnya, memberikan gambaran mengenai pendidikan karakter yang mencakup akhlak, aqidah, dan syariah sebagai fondasi karakter seorang muslim.
Keteladanan juga ditunjukkan melalui sosok Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan utama dalam mendidik dengan kasih sayang dan contoh nyata. Pesan tentang pentingnya kasih sayang tersebut diperkuat dengan hadis mengenai orang-orang yang menyayangi akan mendapatkan kasih sayang dari Allah, serta hadis yang menegaskan bahwa orang yang tidak menyayangi manusia tidak akan disayangi Allah.
Atas dasar itu, guru tidak hanya dituntut untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan, tetapi juga menunjukkan nilai tersebut melalui perilaku sehari-hari. Guru sebagai model diharapkan mampu menunjukkan kejujuran, sikap menghargai, kesabaran, kepedulian, serta kecintaan terhadap ilmu.
Dengan kata lain, peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari bagaimana guru bersikap dan memperlakukan mereka.
Penerapan pendidikan berbasis cinta bukan berarti menghilangkan aturan maupun ketegasan dalam mendidik. Prof. Fauzi menekankan bahwa guru tetap perlu menetapkan aturan, memberikan konsekuensi, mengoreksi kesalahan, dan menjaga kedisiplinan.
Namun, ketegasan tersebut perlu dibedakan dari kekerasan. Dalam proses mendidik, guru perlu menghindari tindakan mempermalukan peserta didik, memberikan label negatif, merendahkan, mengancam secara berlebihan, maupun menggunakan kekerasan fisik dan verbal.
Pesan yang ditekankan adalah “Tegas ≠ Keras.” Ketegasan tetap diperlukan untuk membangun kedisiplinan, tetapi pelaksanaannya harus tetap menjaga martabat peserta didik.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menciptakan pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia. Guru dapat menjalankan fungsi pendidikan dan disiplin tanpa harus menghilangkan rasa aman dan penghargaan terhadap peserta didik.
Pada bagian akhir pemaparannya, Prof. Fauzi mengajak para pendidik untuk tidak memandang penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai sesuatu yang harus dimulai melalui perubahan besar. KBC dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan guru dalam keseharian.
Beberapa langkah yang ditekankan antara lain menyapa siswa dengan tulus, menghubungkan materi dengan kehidupan, menunjukkan keteladanan, serta memberikan ruang refleksi kepada peserta didik.
Hal-hal sederhana tersebut pada akhirnya dapat membentuk pengalaman belajar yang bermakna. Guru tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi, tetapi juga hadir sebagai sosok yang memberikan rasa aman dan menjadi teladan bagi peserta didik.
Pesan tersebut dirangkum dalam sebuah refleksi yang disampaikan dalam materi seminar: anak mungkin lupa terhadap apa yang diajarkan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana guru membuat mereka merasa aman ketika belajar bersama.
Melalui seminar ini, gagasan Kurikulum Berbasis Cinta menjadi sebuah ajakan bagi para pendidik madrasah untuk terus memperkuat dimensi kemanusiaan dalam pendidikan. Pengetahuan dan prestasi tetap penting, tetapi keduanya perlu berjalan bersama pembentukan karakter, empati, toleransi, kepedulian, dan kasih sayang.
Dengan demikian, madrasah tidak hanya menjadi ruang untuk belajar dan memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk tumbuh menjadi manusia yang berkarakter, menghargai sesama, mencintai ilmu, menjaga lingkungan, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa dan kehidupan bersama.