Skip to main content

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Perkuat Kolaborasi PTKIN, FTIK UIN Saizu Purwokerto Hadiri FORDETAK 2026

WhatsApp Image 2026-08-13 at 04.12.39
Berita

Perkuat Kolaborasi PTKIN, FTIK UIN Saizu Purwokerto Hadiri FORDETAK 2026

Purwokerto, 16/08/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto turut hadir dalam Pertemuan Tahunan Forum Dekan Tarbiyah dan Keguruan (FORDETAK) PTKIN se-Indonesia 2026 yang berlangsung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 12–14 Agustus 2026.

Forum yang diselenggarakan oleh FORDETAK dengan UIN Antasari Banjarmasin sebagai tuan rumah tersebut mengusung tema “Strengthening Collaboration and Innovation in Islamic Teacher Education Toward World-Class PTKIN.” Pertemuan ini mempertemukan unsur Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dari berbagai PTKIN di Indonesia untuk membahas tantangan dan arah pengembangan pendidikan guru di tengah perubahan teknologi, transformasi pendidikan, serta tuntutan daya saing global.

Kehadiran FTIK UIN Saizu Purwokerto dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang kolaborasi dan memperkuat jejaring akademik antarfakultas Tarbiyah dan Keguruan. Forum tidak hanya menjadi ruang pertemuan kelembagaan, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi kependidikan Islam, mulai dari perkembangan artificial intelligence (AI), transformasi digital, perubahan karakteristik mahasiswa, hingga dinamika minat terhadap program studi kependidikan.

Bagi FTIK UIN Saizu Purwokerto, FORDETAK menjadi ruang strategis untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan fakultas dari berbagai PTKIN. Perubahan dunia pendidikan yang berlangsung cepat menuntut perguruan tinggi untuk tidak berjalan sendiri, tetapi membangun ekosistem akademik yang memungkinkan pertukaran gagasan, pengalaman, dan inovasi.

Dekan FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan FORDETAK 2026. Menurutnya, forum semacam ini penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam menghadapi persoalan Pendidikan yang semakin kompleks.

“FORDETAK menjadi ruang penting bagi kita untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan mencari langkah bersama dalam memperkuat pendidikan di lingkungan PTKIN. Tantangan yang kita hadapi tidak bisa diselesaikan oleh satu fakultas atau satu perguruan tinggi saja. Karena itu, kolaborasi harus kita bangun secara nyata dan berkelanjutan,” ujar Dekan FTIK.

Menurutnya, kolaborasi antarfakultas perlu diarahkan pada program yang memberikan dampak langsung terhadap penguatan mutu akademik. Kerja sama tidak cukup berhenti pada pertemuan atau dokumen kelembagaan, tetapi harus berkembang menjadi program akademik yang dapat dirasakan manfaatnya oleh dosen dan mahasiswa.

“Yang lebih penting setelah forum ini adalah bagaimana gagasan yang muncul dapat kita tindak lanjuti. Bisa melalui pengembangan kurikulum, riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, publikasi, maupun bentuk kerja sama akademik lainnya. Jadi kolaborasi tidak berhenti sebagai kesepakatan, tetapi menghasilkan sesuatu yang konkret,” tambahnya.

Salah satu isu yang mengemuka dalam FORDETAK 2026 adalah perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital. Perguruan tinggi kependidikan Islam dituntut mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat pembelajaran, sekaligus memastikan penggunaannya tetap berada dalam kerangka etika dan nilai-nilai pendidikan Islam.

Isu tersebut menjadi semakin penting karena teknologi tidak hanya mengubah cara pembelajaran berlangsung, tetapi juga memengaruhi kompetensi yang harus dimiliki calon guru. Mahasiswa kependidikan perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab.

Dalam forum tersebut, kualitas guru juga ditempatkan sebagai salah satu persoalan mendasar. Ketua FORDETAK periode 2024–2026, H. Fakri Hamdani, M.Hum., M.Res., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan kualitas guru merupakan tanggung jawab bersama karena kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.

Persoalan tersebut kemudian berkaitan erat dengan pembahasan Pendidikan Profesi Guru (PPG), termasuk regulasi, pembiayaan, kurikulum, pola pelaksanaan, serta keberlanjutan program. Forum menekankan bahwa profesionalitas guru tidak cukup diukur dari keberhasilan memperoleh sertifikat, tetapi harus tercermin dalam praktik pembelajaran dan kemampuan guru memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

Selain membahas pendidikan profesi dan transformasi teknologi, FORDETAK 2026 juga mengarahkan perhatian pada penguatan kerja sama akademik melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), fast track, double degree, hingga Implementation Agreement antarkampus. Berbagai skema tersebut diharapkan dapat memperkuat indikator kinerja perguruan tinggi sekaligus membuka peluang internasionalisasi PTKIN.

Bagi FTIK UIN Saizu Purwokerto, perkembangan tersebut membuka peluang untuk memperluas jejaring dan mengembangkan program yang tidak hanya berorientasi pada penguatan kelembagaan, tetapi juga memberikan pengalaman akademik yang lebih luas bagi dosen dan mahasiswa.

Prof. Fauzi menegaskan bahwa orientasi menuju perguruan tinggi berkelas dunia harus dibangun melalui proses yang konsisten.

“Kelas dunia tidak cukup hanya dengan slogan. Ukurannya harus terlihat dari mutu lulusan, kualitas dosen, produktivitas riset, inovasi pembelajaran, jejaring akademik, dan kontribusi nyata kepada masyarakat. Karena itu, kita perlu membangun budaya mutu dari dalam fakultas terlebih dahulu,” jelasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pembahasan FORDETAK yang menempatkan internasionalisasi bukan sekadar pada jumlah kerja sama atau aktivitas luar negeri, tetapi pada dampak yang dihasilkan terhadap kurikulum, kompetensi sivitas akademika, penelitian, publikasi, serta masyarakat.

FORDETAK 2026 juga memperlihatkan bahwa orientasi global tidak harus menghilangkan identitas lokal. Penguatan pendidikan Islam justru dapat bertolak dari kekayaan pengetahuan, budaya, dan pengalaman Indonesia untuk kemudian dibawa ke ruang akademik yang lebih luas.

Hal tersebut menjadi relevan bagi FTIK UIN Saizu Purwokerto yang terus berupaya mengembangkan pendidikan keguruan dengan tetap berpijak pada karakter keislaman dan kebutuhan masyarakat.

“Kita ingin FTIK berkembang dan memiliki jejaring yang semakin luas, tetapi tetap memiliki karakter dan kekuatan sendiri. Kita tidak harus menjadi seperti perguruan tinggi lain. Justru kekhasan yang kita miliki harus terus diperkuat, kemudian kita bawa ke ruang kolaborasi yang lebih luas,” ungkap Prof. Fauzi.

Kehadiran FTIK UIN Saizu Purwokerto dalam FORDETAK 2026 dengan demikian bukan sekadar partisipasi dalam agenda tahunan. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk membaca perkembangan pendidikan guru secara lebih luas, memperkuat jejaring dengan PTKIN lain, serta mencari peluang kolaborasi yang dapat ditindaklanjuti dalam pengembangan akademik fakultas.

Pada akhirnya, FORDETAK 2026 membawa pesan bahwa masa depan pendidikan Islam membutuhkan kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk beradaptasi. Bagi FTIK UIN Saizu Purwokerto, kehadiran dalam forum ini menjadi bagian dari langkah untuk terus memperkuat mutu pendidikan guru sekaligus memperluas kontribusi fakultas dalam ekosistem pendidikan tinggi Islam di tingkat nasional.