FTIK UIN SAIZU Wujudkan Pembelajaran Berdampak Melalui Pameran Photography 2026, Angkat Potensi Lokal Melalui Karya Visual
26/06/2026 2026-06-28 15:06FTIK UIN SAIZU Wujudkan Pembelajaran Berdampak Melalui Pameran Photography 2026, Angkat Potensi Lokal Melalui Karya Visual
FTIK UIN SAIZU Wujudkan Pembelajaran Berdampak Melalui Pameran Photography 2026, Angkat Potensi Lokal Melalui Karya Visual
Purwokerto, 26/06/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang berdampak melalui penyelenggaraan Pameran Photography 2026 yang berlangsung di Hetero Space Purwokerto, Jumat (26/6/2026). Mengusung tagline “Satu Bingkai, Sejuta Cerita”, pameran ini menjadi ruang apresiasi atas karya-karya fotografi mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang lahir dari proses pembelajaran berbasis eksplorasi lapangan.
Tidak sekadar menampilkan hasil jepretan kamera, pameran tersebut menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di lingkungan FTIK mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai akademik, sosial, sekaligus ekonomi. Berbagai karya yang dipamerkan mengangkat potret kehidupan masyarakat, aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga berbagai potensi lokal yang ditemui mahasiswa selama proses pembelajaran.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan FTIK UIN SAIZU Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., dosen pengampu mata kuliah sekaligus Direktur Mediamorphosis Rujito, M.Sos., Founder Info Purwokerto Irfan Bahtiar, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag. menegaskan bahwa penyelenggaraan Pameran Photography 2026 merupakan salah satu implementasi nyata dari visi FTIK, yakni menjadi fakultas yang memberikan dampak melalui proses pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pembelajaran di perguruan tinggi tidak cukup berhenti pada penguasaan teori di ruang kelas, tetapi harus mampu menghasilkan pengalaman belajar yang melahirkan kreativitas, keterampilan, dan karya yang dapat dirasakan manfaatnya. Pameran fotografi ini menjadi contoh bahwa mahasiswa, khususnya dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, mampu menunjukkan kapasitasnya dalam menghasilkan karya kreatif yang berkualitas meskipun berasal dari disiplin ilmu yang tidak secara khusus bergerak di bidang seni maupun fotografi.
Lebih lanjut, Prof. Fauzi menyampaikan bahwa karya fotografi tidak hanya memiliki fungsi dokumentatif, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi apabila dikembangkan secara profesional. Di era industri kreatif saat ini, kemampuan menghasilkan karya visual yang berkualitas dapat menjadi peluang usaha sekaligus bekal kompetensi tambahan bagi mahasiswa setelah menyelesaikan studi.
“Inilah makna pembelajaran yang berdampak. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang bernilai, bahkan berpotensi memiliki nilai jual dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” menjadi esensi pesan yang disampaikan Dekan FTIK dalam memberikan apresiasi terhadap seluruh karya mahasiswa.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Photography, Rujito, M.Sos., menjelaskan bahwa pameran ini merupakan puncak dari proses pembelajaran yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknik fotografi, tetapi juga mampu membaca realitas sosial secara langsung.
Melalui berbagai kegiatan observasi lapangan, mahasiswa diajak mengunjungi pelaku UMKM di wilayah Banyumas dan sekitarnya untuk mendokumentasikan aktivitas ekonomi masyarakat dari sudut pandang visual. Selain mengenal proses produksi maupun dinamika usaha yang dijalankan masyarakat, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai sejumlah program pemerintah yang saat ini sedang berkembang, seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena mahasiswa belajar menghubungkan teori dengan kondisi nyata di masyarakat. Fotografi akhirnya tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menghasilkan gambar yang menarik, tetapi juga sebagai media dokumentasi, komunikasi, sekaligus sarana membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Rujito menambahkan bahwa setiap foto yang dipamerkan menyimpan cerita yang lahir dari hasil interaksi mahasiswa dengan masyarakat. Oleh karena itu, karya-karya yang dipajang tidak sekadar memiliki nilai estetika, tetapi juga merekam berbagai dinamika kehidupan, potensi daerah, hingga semangat masyarakat dalam mengembangkan usaha lokal.
Selama penyelenggaraan pameran, para pengunjung disuguhkan berbagai karya fotografi bertema kehidupan sosial, aktivitas UMKM, budaya lokal, hingga berbagai potret keseharian masyarakat yang berhasil diabadikan mahasiswa. Setiap bingkai menghadirkan perspektif yang berbeda, memperlihatkan bagaimana mahasiswa mampu menangkap makna dari setiap objek yang mereka temui selama proses pembelajaran.
Penyelenggaraan Pameran Photography 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran di FTIK terus bergerak menuju pendekatan yang lebih kontekstual, adaptif, dan berorientasi pada pengalaman nyata (experiential learning). Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep secara akademik, tetapi juga didorong untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sehingga mampu menghasilkan karya yang memiliki kebermanfaatan luas.
Melalui kegiatan ini, FTIK UIN SAIZU kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Pameran Photography 2026 menjadi salah satu bukti bahwa pembelajaran yang dirancang dengan baik mampu melahirkan karya, membangun kepedulian sosial, sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri di berbagai bidang.