FTIK UIN Saizu Perkuat Kolaborasi Pendidikan di Banjarnegara, 300 Mahasiswa Disiapkan Isi Ruang Pengabdian Sekolah
25/05/2026 2026-05-27 1:52FTIK UIN Saizu Perkuat Kolaborasi Pendidikan di Banjarnegara, 300 Mahasiswa Disiapkan Isi Ruang Pengabdian Sekolah
FTIK UIN Saizu Perkuat Kolaborasi Pendidikan di Banjarnegara, 300 Mahasiswa Disiapkan Isi Ruang Pengabdian Sekolah
Purwokerto, 25/05/2026 — Di tengah persoalan kekurangan tenaga pendidik yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mengambil langkah konkret dengan memperkuat kolaborasi strategis bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi Tahun 2026.
Komitmen tersebut mengemuka dalam agenda silaturahmi dan koordinasi yang berlangsung di Rumah Dinas Wakil Bupati Banjarnegara pada pukul 13.00 WIB. Pertemuan itu tidak sekadar menjadi forum seremonial, melainkan ruang diskusi serius antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan riil dunia pendidikan, khususnya terkait keterbatasan guru kelas dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sejumlah sekolah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FTIK UIN Saizu Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., Wakil Dekan I Prof. Dr. Suparjo, M.A., Wakil Dekan II Dr. Nurfuadi, M.Pd., Wakil Dekan III Prof. Dr. H. Subur, M.Ag., Ketua Prodi PGMI Dr. Donny Khoirul Azis, M.Pd.I., Sekretaris Prodi PGMI Hendri Purbo Waseso, M.Pd.I., Ketua Prodi PAI Dr. Misbah, serta jajaran pimpinan FTIK lainnya. Dari pihak Pemerintah Kabupaten Banjarnegara hadir Wakil Bupati Banjarnegara H. Wakhid Jumali, Lc., Kepala Dindikpora Banjarnegara Teguh Handoko, S.Sos., beserta jajaran dinas pendidikan.

Kepala Dindikpora Banjarnegara, Teguh Handoko, mengungkapkan bahwa program tersebut lahir dari kebutuhan mendesak di lapangan. Menurutnya, sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan tenaga guru, terutama guru kelas dan guru PAI yang telah memiliki sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG).
“Berangkat dari belum tercukupinya guru dan/atau guru PAI yang sudah PPG, FTIK UIN Saizu menerjunkan mahasiswa melalui program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi. Pada tahun pertama fokus pada mahasiswa PGMI, kemudian dikembangkan dengan melibatkan mahasiswa PGMI dan PAI,” ujarnya.
Ia menilai program tersebut menjadi salah satu bentuk sinergi nyata antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperkuat pelayanan pendidikan dasar di Banjarnegara. Di tengah kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kehadiran mahasiswa di sekolah-sekolah dinilai mampu memberikan energi baru bagi proses pembelajaran.
Sementara itu, Dekan FTIK UIN Saizu Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., menegaskan bahwa program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi bukan sekadar praktik akademik mahasiswa, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial perguruan tinggi terhadap masyarakat.
“Kami hadir bukan hanya membawa program kampus, tetapi juga membawa semangat pengabdian. Karena itu kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara yang selama ini telah membuka ruang kolaborasi bersama FTIK UIN Saizu,” katanya.
Dalam suasana dialog yang hangat, Prof. Fauzi memperkenalkan jajaran pimpinan FTIK yang turut hadir sekaligus menjelaskan bahwa hubungan kerja sama antara FTIK dan Banjarnegara telah terbangun cukup lama melalui berbagai program pendidikan dan pengabdian masyarakat.
“Sejak tahun 2024, kerja sama dan kolaborasi dengan Banjarnegara sudah sangat banyak dilakukan, termasuk kegiatan KKN mahasiswa. Maka program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi ini menjadi bagian dari penguatan kontribusi FTIK terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat,” jelasnya.
Lebih jauh, Prof. Fauzi menekankan bahwa program tersebut dirancang secara serius melalui sistem yang terukur dan profesional. Program magang bahkan dikonversikan setara 24 SKS dan diintegrasikan dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang selama ini dikenal sebagai Kuliah Kerja Nyata (KKN).
“Program ini tidak dibuat seadanya. Kami menerjunkan mahasiswa sesuai standar SOP yang telah disusun. Mahasiswa juga didampingi dosen pembimbing lapangan atau DPL pada setiap kelompok,” tegasnya.
Menurutnya, konsep “terintegrasi” dalam program tersebut memiliki makna bahwa mahasiswa tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga membangun pembinaan sosial dan keagamaan di lingkungan masyarakat tempat mereka tinggal selama penugasan.
“Mereka membina bidang umum sekaligus agama, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Karena memang core program studi kami adalah pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
Jika pada tahun sebelumnya FTIK UIN Saizu menerjunkan sekitar 200 mahasiswa, tahun 2026 jumlah tersebut ditingkatkan menjadi sekitar 300 mahasiswa. Mereka akan ditempatkan di sejumlah wilayah di Banjarnegara, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya telah menjadi lokasi pengabdian seperti Rakit, Pagedongan, dan Klampok.
“Kami memohon arahan, dukungan, dan doa restu agar program ini dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Banjarnegara,” ujar Prof. Fauzi.
Wakil Bupati Banjarnegara H. Wakhid Jumali, Lc., menyambut baik langkah FTIK UIN Saizu tersebut. Ia mengaku pemerintah daerah selama ini banyak menerima keluhan terkait keterbatasan tenaga guru di sekolah-sekolah, baik jenjang SD maupun SMP.
“Kami bersyukur atas kehadiran panjenengan semua. Kami banyak mendengarkan dari para guru terkait kurangnya guru kelas maupun guru PAI. Karena itu program ini sangat membantu kami,” katanya.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa FTIK UIN Saizu telah memberikan kontribusi nyata dalam membantu sekolah menjalankan proses pendidikan di tengah keterbatasan sumber daya manusia.
“Walaupun belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan, paling tidak program ini sudah membantu menjawab keluhan masyarakat terkait kebutuhan tenaga pendidikan,” ungkapnya.
Pertemuan tersebut sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi keagamaan dalam menjawab problem sosial masyarakat. FTIK UIN Saizu tidak hanya mempersiapkan mahasiswa di ruang akademik, tetapi juga mendorong mereka hadir langsung di tengah masyarakat sebagai bagian dari solusi pendidikan daerah.
Di tengah tantangan pendidikan nasional yang semakin kompleks, kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah seperti ini menjadi contoh bagaimana dunia akademik dapat bergerak lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat secara nyata, terukur, dan berkelanjutan.