Perkuat Tata Kelola PPG, FTIK UIN Saizu Catat Kelulusan 99,65 Persen pada 2025
09/07/2026 2026-07-23 14:42Perkuat Tata Kelola PPG, FTIK UIN Saizu Catat Kelulusan 99,65 Persen pada 2025
Purwokerto, 09/07/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Penguatan Tata Kelola dan Evaluasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun 2025 yang diselenggarakan pada Kamis (9/7/2026) di Meeting Room Luminor Hotel Purwokerto.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru sepanjang tahun 2025, sekaligus menyusun berbagai langkah penguatan tata kelola sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan profesi guru di lingkungan UIN SAIZU maupun secara nasional.
Forum tersebut dihadiri oleh Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. H. Faisal Musa’ad, M.Pd., Wakil Rektor II UIN SAIZU Prof. Dr. Sulhan Hakim, M.M., Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., para pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, hingga para alumni Pendidikan Profesi Guru.
Selain menjadi kegiatan evaluasi, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh unsur penyelenggara PPG untuk menyamakan persepsi mengenai arah pengembangan program di tengah berbagai transformasi kebijakan pemerintah. Berbagai capaian, tantangan, serta rekomendasi perbaikan dibahas secara terbuka agar penyelenggaraan PPG di masa mendatang semakin berkualitas, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan pendidikan Indonesia.
Dr. M. H. Misbah, M.Ag., dalam laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan PPG merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan banyak pihak. Menurutnya, keberhasilan program tidak mungkin dicapai tanpa dukungan para dosen, guru pamong, tenaga kependidikan, serta seluruh tim pengelola yang selama ini memberikan pendampingan kepada peserta sejak awal proses pembelajaran hingga pelaksanaan uji kompetensi.
Beliau menjelaskan bahwa forum evaluasi seperti ini memiliki peran penting untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi selama penyelenggaraan program. Masukan dari para dosen, guru pamong, asesor, maupun peserta menjadi bahan berharga dalam menyempurnakan sistem tata kelola sehingga kualitas layanan PPG dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Evaluasi bukan sekadar melihat apa yang sudah dicapai, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki berbagai aspek penyelenggaraan agar layanan PPG semakin baik dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi para guru,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan FTIK UIN SAIZU Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag. menegaskan bahwa Program Pendidikan Profesi Guru merupakan salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme guru Indonesia. Oleh karena itu, menurutnya, setiap Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas penyelenggaraan PPG, mulai dari proses pembelajaran, pendampingan peserta, hingga sistem evaluasi yang diterapkan.
Prof. Fauzi menjelaskan bahwa FTIK UIN SAIZU telah dipercaya sebagai penyelenggara Pendidikan Profesi Guru sejak awal implementasi program tersebut di lingkungan Kementerian Agama. Kepercayaan itu menjadi amanah yang harus dijaga melalui peningkatan kualitas tata kelola, penguatan sumber daya manusia, serta penyempurnaan sistem layanan akademik secara berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan sebuah program profesi tidak cukup diukur dari tingginya angka kelulusan semata. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap lulusan benar-benar memiliki kompetensi sebagai guru profesional yang mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan.
“Program Pendidikan Profesi Guru merupakan investasi jangka panjang dalam membangun kualitas pendidikan Indonesia. Karena itu, tata kelola program harus terus diperkuat agar setiap lulusan benar-benar menjadi guru profesional yang kompeten, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era yang terus berubah,” jelas Prof. Fauzi.
Dalam sambutannya, Prof. Fauzi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim pengelola PPG FTIK yang selama ini bekerja secara maksimal dalam mendampingi para peserta. Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan PPG merupakan hasil kolaborasi seluruh unsur, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, guru pamong, tenaga kependidikan, hingga para asesor yang menjalankan tugasnya secara profesional.
Apresiasi tersebut didasarkan pada capaian penyelenggaraan PPG FTIK UIN SAIZU sepanjang tahun 2025 yang menunjukkan hasil sangat membanggakan. FTIK dipercaya menyelenggarakan tiga batch Pendidikan Profesi Guru dengan jumlah peserta yang terus meningkat pada setiap periode.
Pada Batch 1, FTIK menerima 1.168 peserta dengan tingkat kelulusan mencapai 99,32 persen. Selanjutnya pada Batch 2, jumlah peserta meningkat menjadi 1.745 orang dengan tingkat kelulusan 99,65 persen. Sementara Batch 4 diikuti sekitar 1.700 peserta dengan tingkat kelulusan 99,47 persen. Secara keseluruhan, tingkat kelulusan rata-rata peserta PPG FTIK UIN SAIZU pada tahun 2025 mencapai 99,65 persen, sebuah capaian yang menunjukkan konsistensi kualitas penyelenggaraan program.
Prof. Fauzi mengungkapkan bahwa capaian tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Di balik angka kelulusan yang tinggi terdapat proses pendampingan yang dilakukan secara intensif oleh seluruh tim pengelola. Berbagai strategi pembelajaran diterapkan untuk memastikan setiap peserta memperoleh layanan akademik yang optimal, termasuk pelaksanaan pendampingan daring secara berkala, konsultasi individu, serta penyelenggaraan try out yang dilakukan beberapa kali sebelum peserta mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG).
Ia menambahkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan menjadi salah satu kunci keberhasilan penyelenggaraan PPG di FTIK UIN SAIZU. Peserta tidak hanya dibimbing dalam memahami materi akademik, tetapi juga diarahkan untuk mempersiapkan berbagai dokumen, perangkat pembelajaran, hingga menghadapi berbagai bentuk asesmen yang menjadi bagian dari proses pendidikan profesi.
Meski demikian, Prof. Fauzi mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh pengelola merasa puas. Justru keberhasilan yang telah diraih harus menjadi motivasi untuk terus melakukan inovasi dan penyempurnaan tata kelola agar kualitas penyelenggaraan PPG tetap terjaga sekaligus mampu mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah.
“Mempertahankan kualitas jauh lebih sulit daripada mencapainya. Karena itu budaya evaluasi harus terus dibangun agar setiap kekurangan dapat segera diperbaiki dan setiap keberhasilan dapat terus ditingkatkan,” tegasnya.
Dalam sesi evaluasi, Prof. Fauzi juga memaparkan perkembangan tren kelulusan UKMPPG secara nasional. Ia menjelaskan bahwa ketika program ini mulai dilaksanakan pada tahun 2019, tingkat kelulusan nasional masih berada di kisaran 60 persen dan bahkan sempat mengalami penurunan pada tahun berikutnya. Namun seiring penyempurnaan kebijakan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan sistem pendampingan di berbagai LPTK, angka kelulusan nasional mengalami peningkatan yang sangat signifikan hingga kini berada pada kisaran 98 hingga 99 persen.

Melanjutkan pemaparannya, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa peningkatan angka kelulusan tersebut tidak terlepas dari berbagai penyempurnaan yang dilakukan pemerintah maupun Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru. Menurutnya, transformasi sistem pembelajaran, penguatan pendampingan akademik, serta evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas lulusan PPG.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tingginya persentase kelulusan tidak boleh dimaknai sebagai indikator bahwa seluruh tantangan telah selesai. Justru sebaliknya, capaian tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk terus menjaga kualitas lulusan agar tetap sejalan dengan standar kompetensi guru profesional yang ditetapkan pemerintah.
Dalam paparannya, Prof. Fauzi juga mengungkapkan bahwa pemerintah mulai memberikan perhatian lebih terhadap kualitas penyelenggaraan Program PPG di setiap LPTK. Salah satu indikator yang menjadi perhatian ialah tingkat kelulusan peserta. LPTK yang memiliki persentase kelulusan di bawah standar tertentu akan menjadi bagian dari proses evaluasi sebagai upaya menjaga mutu penyelenggaraan PPG secara nasional.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah yang positif karena mendorong setiap penyelenggara untuk terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat sistem pembelajaran, serta memastikan setiap peserta memperoleh pendampingan yang optimal selama mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru.
Selain mengevaluasi penyelenggaraan program, Prof. Fauzi juga menyampaikan bahwa FTIK UIN SAIZU tengah mempersiapkan proses reakreditasi Program Studi Pendidikan Profesi Guru. Program studi yang secara resmi memperoleh izin operasional pada tahun 2021 tersebut sebelumnya berhasil meraih predikat Baik Sekali pada proses akreditasi perdana. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi FTIK untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola akademik sekaligus mempersiapkan reakreditasi melalui skema terbaru.
Menurut Prof. Fauzi, proses reakreditasi tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan administrasi, melainkan momentum untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan PPG.
“Akreditasi bukan sekadar memperoleh nilai yang baik, tetapi menjadi instrumen untuk memastikan bahwa seluruh proses pendidikan benar-benar berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Oleh karena itu, seluruh unsur pengelola, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, guru pamong, hingga asesor diharapkan memiliki komitmen yang sama dalam menjaga kualitas penyelenggaraan Program PPG.
Beliau juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam proses asesmen peserta. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil evaluasi nasional masih ditemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam proses penilaian yang dilakukan oleh sebagian asesor. Beberapa kasus menunjukkan adanya ketidaktelitian dalam membaca dokumen peserta maupun disparitas nilai yang cukup jauh antarpenguji terhadap dokumen yang sama.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa objektivitas, ketelitian, serta integritas merupakan prinsip utama yang harus dijunjung tinggi oleh setiap asesor.
“Proses asesmen bukan sekadar memberikan angka, tetapi menjadi bentuk pertanggungjawaban akademik terhadap kualitas guru yang nantinya akan terjun langsung ke dunia pendidikan,” tegasnya.
Prof. Fauzi juga menyampaikan bahwa sistem nasional saat ini telah mampu mendeteksi berbagai bentuk ketidakwajaran dalam proses penilaian. Oleh karena itu, setiap asesor diharapkan benar-benar membaca, mencermati, serta memberikan penilaian secara objektif terhadap seluruh dokumen yang disampaikan peserta.
Selain aspek penilaian, forum evaluasi juga membahas berbagai tantangan teknis yang dihadapi selama penyelenggaraan PPG tahun 2025. Beberapa kendala muncul akibat kondisi geografis maupun situasi tertentu yang dialami peserta di berbagai daerah. Meskipun demikian, berbagai penyesuaian kebijakan yang dilakukan pemerintah mampu memastikan proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas asesmen yang dilaksanakan.
Sementara itu, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Faisal Musa’ad, M.Pd., menegaskan bahwa Pendidikan Profesi Guru merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama dalam meningkatkan kualitas guru madrasah di Indonesia. Oleh karena itu, penyelenggaraan PPG harus terus diperkuat melalui tata kelola yang profesional, akuntabel, serta berorientasi pada mutu.
Ia menjelaskan bahwa transformasi penyelenggaraan PPG yang dilakukan pemerintah bukan hanya bertujuan meningkatkan angka kelulusan peserta, tetapi juga memastikan bahwa setiap lulusan benar-benar memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang dibutuhkan sebagai seorang pendidik.

Menurutnya, kualitas guru akan sangat menentukan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Oleh sebab itu, seluruh proses pendidikan profesi harus dilaksanakan secara serius, mulai dari tahap seleksi, pembelajaran, pendampingan, hingga pelaksanaan uji kompetensi.
Direktur GTK Madrasah juga memberikan apresiasi kepada FTIK UIN SAIZU yang berhasil menjaga kualitas penyelenggaraan PPG dengan tingkat kelulusan yang sangat tinggi. Ia menilai capaian tersebut menunjukkan adanya sistem pendampingan yang baik, kolaborasi yang kuat antara dosen dan guru pamong, serta komitmen institusi dalam menghadirkan layanan pendidikan profesi yang berkualitas.
Ia berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai angka statistik semata, tetapi menjadi motivasi untuk terus melakukan inovasi dalam pengembangan sistem pembelajaran, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam penyelenggaraan Program PPG.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor II UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. Sulhan Hakim, M.M., menyampaikan apresiasi atas berbagai capaian yang berhasil diraih FTIK dalam penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru.

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan tingkat kelulusan hingga mencapai rata-rata 99,65 persen menjadi bukti bahwa tata kelola PPG di lingkungan FTIK telah berjalan secara baik dan profesional. Capaian tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi UIN SAIZU sebagai salah satu LPTK penyelenggara PPG yang dipercaya oleh pemerintah.
Ia juga berharap hasil evaluasi yang dilaksanakan melalui forum ini mampu menjadi pijakan dalam meningkatkan kualitas layanan akademik sekaligus memperkuat kesiapan Program Studi PPG menghadapi proses reakreditasi pada periode mendatang.
Diskusi yang berlangsung setelah penyampaian materi menjadi salah satu sesi yang mendapat perhatian besar dari para peserta. Dosen, guru pamong, serta pengelola PPG aktif menyampaikan berbagai pengalaman selama mendampingi peserta, mulai dari pelaksanaan pembelajaran, penyusunan perangkat ajar, pelaksanaan UKIN dan UP, hingga berbagai tantangan teknis yang ditemui selama proses pendidikan berlangsung.
Berbagai masukan yang muncul dalam forum tersebut menjadi bahan evaluasi bersama untuk menyusun langkah-langkah perbaikan pada penyelenggaraan Program PPG berikutnya. Semangat kolaborasi yang terbangun selama kegiatan mencerminkan komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan Penguatan Tata Kelola dan Evaluasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun 2025, FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto kembali menegaskan perannya sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang berkomitmen menghadirkan penyelenggaraan PPG yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada mutu. Dengan budaya evaluasi yang terus dikembangkan, penguatan tata kelola yang berkelanjutan, serta sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dosen, guru pamong, dan para peserta, FTIK optimistis dapat terus melahirkan guru-guru profesional yang tidak hanya memenuhi standar kompetensi nasional, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas.