Tutup Asesmen Lapangan PPG, FTIK UIN Saizu Siapkan Tindak Lanjut Rekomendasi Asesor
11/10/2026 2026-10-12 10:23Tutup Asesmen Lapangan PPG, FTIK UIN Saizu Siapkan Tindak Lanjut Rekomendasi Asesor
Purwokerto, 11/10/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menutup rangkaian Asesmen Lapangan (AL) Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan menerima sejumlah masukan dan rekomendasi dari tim asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mengevaluasi penyelenggaraan program studi sekaligus memperkuat komitmen fakultas terhadap peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.
Penutupan asesmen dihadiri oleh Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., jajaran pimpinan fakultas, Ketua Program Studi PPG Dr. Abu Dharin, M.Pd., tim task force, dosen, serta tim asesor yang terdiri atas Prof. Asep, Prof. Maria, dan Prof. Kastam. Dalam sesi penutupan, tim asesor menyampaikan catatan evaluasi dan rekomendasi yang dapat menjadi dasar pengembangan program studi pada masa mendatang.
Dalam sambutannya, Dekan FTIK Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag. menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya asesmen lapangan dengan lancar. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar proses evaluasi untuk memenuhi kebutuhan akreditasi, melainkan juga kesempatan bagi fakultas untuk memperoleh perspektif baru dalam menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan PPG.
Menurutnya, berbagai masukan yang disampaikan oleh tim asesor memiliki nilai penting bagi pengembangan program studi, terutama dalam aspek sistem penjaminan mutu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

“Masukan-masukan dari Bapak/Ibu asesor sangat berharga dan tentu akan kami tindak lanjuti, baik dalam konteks sistem penjaminan mutu maupun peningkatan mutu SDM, termasuk sarana dan prasarana, agar pendidikan kita betul-betul memenuhi harapan masyarakat,” ungkap Prof. Fauzi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim asesor dan seluruh unsur yang terlibat dalam persiapan asesmen, mulai dari penyusunan dokumen evaluasi diri hingga laporan kinerja program studi. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika yang berkomitmen mendukung peningkatan mutu PPG.
Salah satu penekanan penting disampaikan oleh asesor Prof. Asep. Ia mengingatkan bahwa berakhirnya asesmen lapangan tidak berarti tugas peningkatan mutu telah selesai. Sebaliknya, hasil evaluasi harus menjadi pijakan untuk melanjutkan pembenahan secara konsisten, terutama dalam penguatan fasilitas pembelajaran, pelaksanaan audit mutu internal, dan pengukuran capaian pembelajaran lulusan.
“Selesainya asesmen lapangan ini bukan berarti berakhir peningkatan mutu kita,” tegasnya.
Prof. Asep secara khusus menyoroti sarana microteaching yang memiliki peran penting dalam menyiapkan calon guru profesional. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut perlu diikuti dengan pengembangan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan agar mampu mendukung proses pembelajaran dan praktik keguruan secara optimal.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) secara rutin dan menyeluruh. AMI, menurutnya, tidak semestinya dipandang sebagai beban administratif, tetapi sebagai instrumen untuk memastikan bahwa proses penjaminan mutu berjalan secara sistematis. Dokumentasi dan evaluasi yang dilaksanakan secara berkala akan memudahkan program studi dalam menyiapkan data serta bukti kinerja ketika menghadapi proses akreditasi berikutnya.
Ia juga mendorong penguatan pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan penerapan Outcome-Based Education (OBE). Upaya tersebut, menurut Prof. Asep, perlu didukung oleh komitmen pimpinan dan sistem yang memudahkan dosen dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
Sementara itu, asesor Prof. Maria menyampaikan apresiasi terhadap sejumlah aspek positif yang telah dimiliki FTIK UIN Saizu, khususnya pada bidang sumber daya manusia, rekognisi internasional, serta pengembangan sistem penjaminan mutu. Ia menilai bahwa capaian tersebut menjadi modal penting bagi fakultas untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan memperluas daya saing institusi.
Meski demikian, Prof. Maria mengingatkan bahwa pengembangan kurikulum berbasis OBE perlu mendapat perhatian berkelanjutan, terutama dalam memastikan keterukuran CPL. Menurutnya, kurikulum merupakan unsur mendasar dalam penyelenggaraan program studi karena berhubungan langsung dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh lulusan.
“Kurikulum adalah ruhnya atau napas dari penyelenggaraan program studi. Kalau kurikulumnya tidak cukup baik, maka kita tidak bisa menghasilkan lulusan yang baik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam mendukung pengelolaan pembelajaran dan penjaminan mutu. Melalui sistem digital yang terintegrasi, proses pengukuran CPL, pengelolaan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), serta dokumentasi capaian pembelajaran diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien.
Di bidang pengembangan SDM, Prof. Maria mendorong peningkatan produktivitas dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penelitian dan publikasi ilmiah. Penguatan produktivitas tersebut tidak hanya mendukung pengembangan keilmuan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam peningkatan jabatan fungsional dosen dan penguatan reputasi akademik institusi.
Senada dengan hal tersebut, asesor Prof. Kastam menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu unsur utama dalam pengembangan program studi. Ia mendorong dosen untuk terus meningkatkan kualifikasi akademik, jabatan fungsional, serta produktivitas karya ilmiah. Menurutnya, penguatan SDM yang diiringi dengan sarana dan prasarana yang memadai akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan program studi secara berkelanjutan.

Prof. Kastam juga berharap pengembangan PPG di UIN Saizu dapat terus berlanjut, termasuk melalui peluang peningkatan jumlah mahasiswa dan pengembangan bidang studi sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Namun, harapan tersebut perlu diiringi dengan kesiapan institusi, terutama dari sisi tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran, dan kualitas penyelenggaraan program.
Ketiga asesor turut menegaskan bahwa proses asesmen merupakan ruang pembelajaran bersama. Selain memberikan evaluasi terhadap program studi yang dinilai, tim asesor juga memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman dan mempelajari praktik-praktik baik yang telah dikembangkan oleh institusi. Dengan demikian, proses asesmen diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan mutu pendidikan secara lebih luas.
Menanggapi berbagai rekomendasi tersebut, FTIK UIN Saizu menegaskan komitmennya untuk melakukan tindak lanjut secara terencana dengan melibatkan unsur pimpinan, pengelola program studi, dosen, dan unit penjaminan mutu. Catatan asesmen akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi dalam memperkuat tata kelola program studi, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memastikan keberlanjutan budaya mutu di lingkungan fakultas.
Penutupan asesmen lapangan PPG ini sekaligus menegaskan bahwa mutu pendidikan tidak berhenti pada pemenuhan dokumen atau pelaksanaan akreditasi. Mutu harus tercermin dalam proses pembelajaran, kompetensi lulusan, kinerja dosen, dukungan sarana prasarana, dan sistem evaluasi yang dilaksanakan secara konsisten. Melalui tindak lanjut terhadap rekomendasi asesor, FTIK UIN Saizu diharapkan semakin siap menyelenggarakan pendidikan profesi guru yang berkualitas dan mampu menjawab kebutuhan pendidikan nasional.