Terima undangan Guest Lecture, FTIK UIN saizu isi materi di Institut Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar
19/09/2026 2026-09-21 11:52Terima undangan Guest Lecture, FTIK UIN saizu isi materi di Institut Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar
Terima undangan Guest Lecture, FTIK UIN saizu isi materi di Institut Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar
Purwokerto, 19 September 2026 – Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (SAIZU) Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., dipercaya menjadi narasumber dalam kegiatan Guest Lecture atau Kuliah Umum dan Bimbingan Bedah Borang Persiapan Akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan Institut Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar, Sabtu (19/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Fauzi menyampaikan kuliah umum dengan tema “Filosofi dan Efektivitas Kurikulum OBE (Outcome-Based Education)” di hadapan dosen dan mahasiswa Institut Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar. Selain memberikan kuliah umum, Prof. Fauzi juga dijadwalkan memberikan bimbingan dalam kegiatan Bedah Borang Persiapan Akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam bagi tim persiapan akreditasi dan pengelola program studi.
Mengawali pemaparannya, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa Outcome-Based Education (OBE) merupakan pendekatan pendidikan yang berfokus pada pengorganisasian seluruh elemen pembelajaran agar mahasiswa mencapai kemampuan nyata yang esensial pada akhir pengalaman belajar. Dalam pendekatan ini, orientasi pendidikan bergeser dari apa yang diajarkan (what teachers teach) menuju apa yang benar-benar dikuasai dan mampu dilakukan oleh lulusan (what students achieve).

Perubahan orientasi tersebut membawa konsekuensi terhadap proses pembelajaran. OBE mendorong pergeseran dari teacher-centered menuju student-centered learning. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur berdasarkan seberapa banyak materi yang telah disampaikan, tetapi berdasarkan ketercapaian kompetensi mahasiswa yang dapat dibuktikan melalui asesmen.
“Keberhasilan tidak berhenti pada tersampaikannya materi,” demikian salah satu penekanan dalam materi yang disampaikan Prof. Fauzi. Dalam kerangka OBE, proses pembelajaran harus dirancang agar mahasiswa mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, dengan asesmen yang selaras untuk menghasilkan bukti ketercapaian capaian pembelajaran.
Prof. Fauzi selanjutnya menguraikan bahwa implementasi OBE membutuhkan keterhubungan seluruh komponen kurikulum. Rantai tersebut dimulai dari visi lembaga dan visi keilmuan program studi, profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), bahan kajian, mata kuliah, Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), Sub-CPMK, strategi pembelajaran, asesmen, hingga evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.
Dalam penyusunan kurikulum, OBE menggunakan desain backward, yaitu memulai dari hasil akhir yang ingin diwujudkan pada lulusan, kemudian menurunkannya ke dalam struktur kurikulum, pembelajaran, dan asesmen. Proses tersebut perlu memperhatikan prinsip alignment, measurability, relevance, dan continuous improvement.
“Kurikulum dimulai dari ‘lulusan seperti apa?’” menjadi salah satu pertanyaan penting dalam desain kurikulum berbasis OBE. Dari profil lulusan tersebut kemudian dirumuskan CPL dan diturunkan ke dalam bahan kajian, mata kuliah, CPMK, Sub-CPMK, aktivitas pembelajaran, hingga asesmen dan bukti capaian.
Dalam paparannya, Prof. Fauzi juga memberikan gambaran mengenai hubungan CPL → CPMK → Sub-CPMK → aktivitas belajar → asesmen → bukti capaian. CPL berada pada level lulusan, CPMK menerjemahkan kontribusi suatu mata kuliah terhadap CPL, sedangkan Sub-CPMK membuat capaian tersebut semakin operasional sehingga dapat direncanakan dalam proses pembelajaran dan dinilai berdasarkan bukti.
Aspek asesmen menjadi bagian penting dalam penerapan OBE. Prof. Fauzi menekankan bahwa asesmen harus mampu menjawab pertanyaan “Bukti apa yang menunjukkan capaian?” Bentuk bukti dapat disesuaikan dengan kompetensi yang hendak diukur. Pengetahuan dapat dibuktikan melalui tes analitis, telaah literatur, atau esai argumentatif; keterampilan melalui perangkat pembelajaran, microteaching, proyek, dan portofolio; sementara sikap dan profesionalisme dapat diamati melalui refleksi, penilaian kinerja, observasi, serta dokumentasi proses.

Lebih lanjut, efektivitas OBE dapat dilihat melalui keterhubungan yang jelas antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, dan asesmen; tersedianya bukti penilaian yang dapat ditelusuri; adanya tracking ketercapaian CPL; pemanfaatan feedback; evaluasi kurikulum secara berkala berbasis data; serta keterlibatan pemangku kepentingan seperti alumni, pengguna lulusan, asosiasi keilmuan, dosen, dan mahasiswa.
Prof. Fauzi juga mengingatkan agar OBE tidak dipersempit hanya sebagai perubahan format RPS. CPL harus dirumuskan secara terukur, CPMK perlu mengoperasionalkan kontribusi mata kuliah terhadap CPL, dan asesmen harus benar-benar mengukur outcome yang dinyatakan. Data capaian yang telah diperoleh juga perlu dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan.
Selain aspek pembelajaran, materi tersebut menempatkan implementasi OBE sebagai bagian dari budaya mutu. Dokumentasi kurikulum, RPS, instrumen asesmen, hasil penilaian, analisis capaian, hingga tindak lanjut perlu disusun secara konsisten dan dapat ditelusuri. Dengan demikian, OBE tidak hanya hadir sebagai kebutuhan administratif dalam proses akreditasi, tetapi menjadi bagian dari siklus peningkatan mutu pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung hingga sesi bimbingan bedah borang tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman akademik mengenai pengembangan kurikulum berbasis capaian sekaligus persiapan akreditasi Program Studi Pendidikan Agama Islam.