Skip to main content

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Kuliah Tamu Prodi PAI FTIK UIN Saizu Bahas Rekonstruksi Pembelajaran di Era AI dan Pendidikan Inklusif

WhatsApp Image 2026-09-14 at 23.08.21
BeritaPendidikan Agama Islam

Kuliah Tamu Prodi PAI FTIK UIN Saizu Bahas Rekonstruksi Pembelajaran di Era AI dan Pendidikan Inklusif

Purwokerto, 14/09/2026 – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menggelar kegiatan Kuliah Tamu (Guest Lecture) pada Senin (14/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang penguatan wawasan mahasiswa dalam memahami inovasi pembelajaran PAI di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), isu global, serta kebutuhan pendidikan yang inklusif.

Kuliah tamu menghadirkan dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Mukhibat, M.Ag., M.M. yang membawakan materi “Merekonstruksi Pembelajaran Agama di Era Disrupsi AI dan Isu Global” serta Prof. Dr. Eva Latipah, S.Psi., M.Si., Guru Besar Psikologi Pendidikan UIN Sunan Kalijaga, yang menyampaikan materi tentang Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Mukhibat menekankan pentingnya inovasi kurikulum PAI agar tetap relevan dengan karakteristik peserta didik generasi Z dan generasi Alpha yang semakin dekat dengan teknologi digital.

Menurutnya, peserta didik saat ini terbiasa memperoleh informasi melalui algoritma, konten singkat, media visual, dan interaksi digital. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan, mulai dari polarisasi digital, banjir informasi, perkembangan Generative AI, hingga persoalan lingkungan dan krisis iklim.

Dalam situasi tersebut, pembelajaran PAI perlu mengalami perubahan orientasi, dari sekadar transfer of knowledge menuju pembentukan karakter (character building) yang adaptif.

“Kurikulum PAI yang statis akan kehilangan relevansinya di mata peserta didik era digital,” ungkap Prof. Mukhibat.

Ia juga mengangkat fenomena pemanfaatan AI oleh peserta didik untuk mengerjakan tugas fikih maupun menyusun materi pidato keagamaan. Pemanfaatan AI tanpa verifikasi sumber dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti kesalahan informasi, kekeliruan kutipan ayat dan hadis, ketergantungan terhadap teknologi, hingga berkurangnya proses berpikir kritis dan refleksi moral.

Karena itu, calon guru PAI perlu dibekali literasi keagamaan digital, etika penggunaan AI dalam perspektif Islam, kemampuan memverifikasi sumber dan sanad, serta kemampuan melakukan refleksi moral.

Selain AI, pembelajaran PAI juga didorong untuk merespons isu ekologis. Konsep Islamic Eco-Theology atau Fiqh al-Bi’ah dapat diintegrasikan dalam pembelajaran melalui kegiatan berbasis proyek, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, penghematan air, hingga gerakan infak ekologis.

Prof. Mukhibat menjelaskan tiga poros utama dalam rekonstruksi kurikulum PAI, yaitu re-orientasi materi, pendekatan interdisipliner, dan pendekatan konstruktivis-inklusif.

Materi PAI perlu menghubungkan turats dengan isu-isu kontemporer seperti AI, kesehatan mental, dan ekologi. Pembelajaran juga perlu membuka ruang kolaborasi antara PAI dengan sains, teknologi, dan ilmu sosial.

Sementara itu, pendekatan konstruktivis-inklusif dapat diwujudkan melalui penguatan dialog, toleransi, kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), problem solving, dan pembelajaran reflektif.

Strategi pembelajaran pun perlu dikembangkan dari pola konvensional menuju Case-Based Learning dan Project-Based Learning. Asesmen tidak semata-mata berupa ujian tertulis, tetapi dapat dikembangkan melalui portofolio digital, refleksi aksi sosial, dan simulasi kasus.

Dalam konteks tersebut, AI ditempatkan sebagai alat bantu. Guru tetap memiliki posisi penting sebagai pengarah nilai, verifikator informasi, dan fasilitator pembelajaran.

Ia menggambarkan profil guru PAI masa depan sebagai Educator, Curator, Designer, dan Ethical Guide. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengkurasi informasi, merancang pengalaman belajar, serta membimbing peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara etis.

Sesi kedua menghadirkan Prof. Dr. Eva Latipah, S.Psi., M.Si. yang membahas pendidikan PAI bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Prof. Eva menjelaskan bahwa ABK memiliki kebutuhan yang beragam dalam proses belajar, berkomunikasi, bergerak, berinteraksi, maupun mengelola emosi. Oleh karena itu, guru perlu memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik sebelum memberikan penilaian terhadap perilaku mereka.

Dalam pembelajaran PAI, guru tidak boleh terburu-buru memberikan label seperti “nakal”, “malas”, atau “tidak sopan” tanpa memahami hambatan spesifik yang dialami peserta didik.

Ia menegaskan bahwa belajar agama merupakan hak seluruh anak. Keterbatasan yang dimiliki peserta didik tidak menghilangkan hak mereka untuk mengenal Allah, belajar beribadah, dan memperoleh penerimaan dalam lingkungan pendidikan.

Salah satu prinsip penting yang disampaikan adalah Tujuannya sama, jalannya boleh berbeda.

Menurutnya, keadilan dalam pendidikan bukan berarti memberikan perlakuan yang sama persis kepada semua peserta didik, melainkan memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Prof. Eva memberikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan guru PAI dalam mendampingi ABK. Guru perlu terlebih dahulu mengenali kemampuan awal dan kebutuhan anak, menentukan tujuan pembelajaran yang realistis, menyesuaikan cara penyampaian materi, memberikan pilihan dalam menunjukkan pemahaman, serta melakukan evaluasi secara berkelanjutan.

Pembelajaran dapat menggunakan berbagai pendekatan dan media, seperti gambar, audio, demonstrasi, contoh konkret, maupun instruksi bertahap. Peserta didik juga dapat diberikan pilihan untuk menunjukkan pemahamannya melalui lisan, isyarat, tindakan, atau menunjuk gambar.

Materi tersebut memberikan perspektif penting bagi mahasiswa PAI bahwa menjadi guru tidak hanya membutuhkan penguasaan materi keagamaan, tetapi juga kemampuan memahami keragaman karakteristik peserta didik dan melakukan adaptasi pembelajaran.

Melalui kegiatan Kuliah Tamu ini, mahasiswa PAI FTIK UIN Saizu diharapkan semakin siap menghadapi perubahan dunia pendidikan. Calon guru PAI tidak hanya dituntut mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga harus mampu menjaga nilai, adab, tanggung jawab, serta menghadirkan pembelajaran yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Prodi PAI FTIK UIN Saizu dalam menyiapkan calon pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kritis dalam menghadapi perubahan, serta memiliki kepedulian terhadap keberagaman dan kebutuhan peserta didik.