Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Tak Hanya Berkutat pada Angka, Mahasiswa Tadris Matematika UIN Saizu Rawat Seni Lewat SIGMA Tari

WhatsApp Image 2026-06-11 at 20.36.30
BeritaTadris Matematika

Tak Hanya Berkutat pada Angka, Mahasiswa Tadris Matematika UIN Saizu Rawat Seni Lewat SIGMA Tari

Purwokerto, (11/06/2026) – Mahasiswa Program Studi Tadris Matematika UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto terus menunjukkan bahwa mahasiswa tadris matematika tidak hanya berkutat pada angka. Melalui Komunitas Aksi Generasi Matematika (SIGMA), mereka juga membangun kepekaan seni dan budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan SIGMA Tari yang memasuki pertemuan kedua pada Kamis (11/6/2026). Bertempat di Kelas D1 UIN Saizu Purwokerto, kegiatan yang berlangsung pukul 12.30–14.30 WIB ini diikuti mahasiswa Tadris Matematika dengan penuh antusiasme melalui latihan Tari Kepyar, salah satu tarian tradisional yang dikenal kaya akan dinamika gerak, ritme, dan ekspresi.

Sejak awal kegiatan, suasana latihan berlangsung hidup. Para peserta secara bertahap mempelajari dan menyelaraskan setiap gerakan, mulai dari teknik dasar hingga penguatan ekspresi yang menjadi ciri khas Tari Kepyar. Tidak hanya berfokus pada ketepatan gerakan, latihan juga menjadi ruang untuk membangun kekompakan, koordinasi, dan rasa kebersamaan antaranggota komunitas.

Penanggung jawab kegiatan dari Divisi Aksioma, Oktania, menegaskan bahwa latihan tari memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mempelajari seni pertunjukan.

“Tari Kepyar bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi juga cerminan harmoni dan kebersamaan. Melalui SIGMA Tari, kita belajar bahwa seni adalah bahasa universal yang menyatukan hati dan pikiran,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan seni menjadi salah satu sarana penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kecerdasan emosional, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa dalam kehidupan akademik maupun profesional.

Melalui SIGMA Tari, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa seni dan matematika memiliki titik temu yang sama, yakni keteraturan, ritme, pola, dan keseimbangan. Jika matematika mengajarkan ketelitian dalam berpikir, maka seni tari mengajarkan ketepatan gerak, harmoni, serta kemampuan berkolaborasi dalam sebuah kelompok.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di kalangan generasi muda. Di tengah derasnya arus budaya populer dan perkembangan teknologi digital, mahasiswa didorong untuk tetap mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya bangsa melalui praktik nyata.

Lebih dari sekadar agenda rutin komunitas, SIGMA Tari menjadi ruang pembelajaran alternatif yang mempertemukan aspek intelektual, sosial, dan kultural dalam satu kegiatan. Melalui aktivitas ini, mahasiswa tidak hanya berkembang sebagai calon pendidik yang kompeten, tetapi juga sebagai generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap identitas budaya bangsa.