Dorong Pemimpin Muda Berkarakter dan Inovatif, FTIK UIN Saizu adakan Inspiring Leadership!
03/10/2026 2026-10-05 19:33Dorong Pemimpin Muda Berkarakter dan Inovatif, FTIK UIN Saizu adakan Inspiring Leadership!
Purwokerto, 03/10/2026 – Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki karakter kuat sekaligus mampu menghadirkan inovasi melalui kegiatan Inspiring Leadership bertema “Mencetak Pemimpin Muda yang Berkarakter dan Inovatif”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Meeting Room K.H.A. Wahid Hasyim FTIK UIN Saizu Purwokerto. Kegiatan menghadirkan Dr. Achmad Nasihi, M.T., M.Pd. dan Dr. H. Imam Tobroni, M.M. sebagai narasumber, dengan Ulpah Maspupah, M.Pd.I. bertindak sebagai moderator.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau posisi formal. Kepemimpinan justru dapat dimulai dari keberanian seseorang membaca persoalan di sekitarnya, mengambil tanggung jawab, serta menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
Dekan FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., dalam arahannya menekankan pentingnya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai karakter dan keberanian untuk mengambil peran di tengah perubahan zaman.
“Pemimpin muda harus memiliki karakter yang kuat, integritas, tanggung jawab, serta kemampuan membaca perubahan. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk pribadi yang mampu mengambil peran dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” ungkap Prof. Fauzi.
Menurutnya, kepemimpinan perlu dibangun sejak mahasiswa berada di lingkungan kampus. Berbagai organisasi, komunitas, kegiatan akademik maupun sosial dapat menjadi ruang latihan untuk belajar mengambil keputusan, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Sementara itu, Dr. Achmad Nasihi, M.T., M.Pd. mengajak peserta melihat kepemimpinan sebagai proses yang membutuhkan kesadaran, keberanian, dan kemampuan untuk mengelola diri sebelum memimpin orang lain.
“Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari posisi yang tinggi. Kepemimpinan dapat dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, disiplin terhadap tanggung jawab, kemudian berani mengambil peran ketika melihat persoalan yang membutuhkan penyelesaian,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pemimpin muda perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitar. Menurutnya, keberanian mengambil inisiatif menjadi salah satu modal penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai perubahan, tetapi mampu menjadi bagian dari solusi.
Hal senada disampaikan Dr. H. Imam Tobroni, M.M. yang menguraikan bahwa kepemimpinan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk menggerakkan orang menuju tujuan bersama. Dalam konteks generasi muda, kepemimpinan perlu ditopang oleh dua kekuatan utama, yakni karakter dan inovasi.
“Karakter membangun kepercayaan, sedangkan inovasi membangun daya gerak. Karena itu, pemimpin muda tidak cukup hanya menjadi orang yang dipercaya, tetapi juga harus mampu membaca masalah, mencoba hal baru, berkolaborasi, belajar dari kegagalan, dan menghadirkan perubahan,” tutur Imam Tobroni.
Ia menjelaskan, karakter merupakan fondasi yang tidak dapat digantikan. Integritas, empati, tanggung jawab, dan keberanian menjadi unsur penting dalam membentuk pemimpin yang dapat dipercaya. Karakter bahkan akan terlihat paling jelas ketika seseorang berada dalam situasi tanpa pengawasan.
Di sisi lain, inovasi tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi baru. Inovasi dapat muncul melalui cara baru dalam membaca persoalan lama. Pemimpin inovatif dituntut untuk peka terhadap masalah, terbuka terhadap berbagai perspektif, mampu berkolaborasi, serta berani melakukan eksperimen untuk menemukan solusi yang lebih baik.
“Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi baru. Sering kali inovasi adalah keberanian untuk melihat masalah lama dengan cara yang berbeda, kemudian mencoba pendekatan baru dan memperbaikinya berdasarkan pengalaman,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, Imam Tobroni juga menggambarkan pentingnya keseimbangan antara karakter dan inovasi. Karakter yang kuat tanpa inovasi dapat membuat seseorang dipercaya tetapi mudah mengalami stagnasi. Sebaliknya, inovasi yang kuat tanpa karakter dapat menghasilkan perubahan yang efektif, tetapi memiliki risiko ketika tidak disertai tanggung jawab dan nilai yang kuat.
Karena itu, pemimpin muda ideal adalah mereka yang mampu memadukan karakter yang kuat dengan kemampuan inovatif sehingga dapat dipercaya sekaligus mampu menciptakan perubahan.
Moderator kegiatan, Ulpah Maspupah, M.Pd.I., mengarahkan jalannya diskusi agar peserta tidak hanya memahami kepemimpinan secara konseptual, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
“Kepemimpinan akan menjadi lebih bermakna ketika peserta tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi mampu menemukan persoalan di sekitarnya dan bertanya apa yang dapat dilakukan untuk memberikan solusi,” ujar Ulpah.
Ia juga mendorong peserta untuk berani memulai kepemimpinan dari hal-hal sederhana. Menurutnya, ruang kepemimpinan dapat ditemukan di kelas, organisasi, komunitas, lingkungan tempat tinggal, maupun berbagai ruang digital.
Materi kegiatan juga mengajak peserta memahami perjalanan kepemimpinan pemuda dalam konteks sejarah Indonesia. Pemuda dan mahasiswa memiliki peran penting dalam berbagai momentum perubahan, mulai dari Sumpah Pemuda 1928, gerakan mahasiswa 1966, hingga Reformasi 1998. Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan pemuda tidak selalu lahir dari jabatan formal, melainkan dari keberanian membaca situasi dan mengambil peran ketika masyarakat menghadapi persoalan.
Dalam konteks kekinian, medan kepemimpinan semakin luas. Perkembangan ruang digital, tuntutan terhadap transparansi dan kepercayaan publik, persoalan lingkungan, ketimpangan, dunia kerja, kesehatan mental, hingga kualitas hidup menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Oleh karena itu, peserta didorong untuk tidak menunggu hadirnya panggung kepemimpinan. Kepemimpinan dapat dimulai dari lingkungan terdekat dengan memilih satu persoalan, mengerjakannya secara bertanggung jawab, membuka diri terhadap kritik, serta melakukan refleksi atas keputusan yang telah diambil.
Kegiatan Inspiring Leadership diharapkan dapat memperkuat kesadaran mahasiswa dan generasi muda bahwa kepemimpinan merupakan proses panjang yang dimulai dari keputusan-keputusan kecil. Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mampu mencapai tujuan, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan cara yang ditempuh, nilai yang dijaga, dampak yang dihasilkan, serta manfaat yang ditinggalkan.
Dengan demikian, FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto terus mendorong terbentuknya generasi muda yang memiliki integritas, keberanian, kepekaan sosial, kemampuan berkolaborasi, dan daya inovasi sehingga mampu mengambil peran dalam menjawab berbagai tantangan di tengah perubahan zaman.