SEMA FTIK UIN Saizu Gelar Seminar Advokasi, Bekali Mahasiswa Keterampilan Mengawal Isu secara Objektif
30/09/2026 2026-10-03 15:40SEMA FTIK UIN Saizu Gelar Seminar Advokasi, Bekali Mahasiswa Keterampilan Mengawal Isu secara Objektif
SEMA FTIK UIN Saizu Gelar Seminar Advokasi, Bekali Mahasiswa Keterampilan Mengawal Isu secara Objektif
Purwokerto, 30/09/2026 – Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menyelenggarakan Seminar Advokasi pada Selasa, 29 September 2026, bertempat di Hall Perpustakaan UIN Saizu. Kegiatan ini menjadi upaya membekali mahasiswa dengan pemahaman dan keterampilan advokasi serta analisis wacana media agar mampu menyikapi berbagai persoalan secara kritis, objektif, dan bertanggung jawab.
Seminar tersebut diikuti oleh perwakilan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di lingkungan FTIK serta mahasiswa umum. Kegiatan menghadirkan dua pemateri, yakni Sidiq A. Purnama, S.H., yang membahas advokasi, serta Pundra Rengga Andhita, S.Sos., M.I.Kom., yang menyampaikan materi analisis wacana media.
Ketua SEMA FTIK periode 2026/2027, Muhammad Kamal Mubarok, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung persiapan hingga terlaksananya kegiatan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelaksanaan seminar.
Kamal menekankan bahwa materi advokasi dan analisis wacana media penting bagi mahasiswa, terutama dalam menghadapi derasnya informasi dan beragam persoalan yang berkembang di lingkungan sekitar maupun media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menelaah suatu isu secara cermat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi atau opini yang belum dipahami secara utuh.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat membentuk budaya Mahasiswa FTIK yang tidak hanya berani bersuara, melainkan bijak serta objektif dalam melihat suatu persoalan,” ungkap Kamal.
Ia berharap seminar ini tidak berhenti pada penambahan wawasan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mampu menentukan langkah advokasi yang tepat ketika menghadapi persoalan. Dengan demikian, keberanian menyampaikan pendapat dapat berjalan beriringan dengan kecermatan dalam memahami masalah dan tanggung jawab atas tindakan yang diambil.
Dekan FTIK UIN Saizu, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., yang memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan, menegaskan pentingnya wawasan dan keterampilan advokasi, baik untuk melindungi hak diri sendiri maupun membantu memperjuangkan hak orang lain.
Menurut Prof. Fauzi, advokasi membutuhkan pemahaman persoalan dan strategi yang tepat. Keberanian mengawal atau melaporkan suatu masalah harus disertai pengetahuan mengenai prosedur dan konsekuensi yang mungkin muncul agar upaya penyelesaian persoalan tidak justru menimbulkan masalah baru.
“Dalam mengadvokasikan suatu persoalan perlu menggunakan langkah yang tepat. Jangan sampai teman-teman sedang mengawal atau melaporkan suatu persoalan, justru malah dilaporkan balik,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa advokasi bukan semata-mata tentang keberanian menyuarakan tuntutan, melainkan juga tentang kemampuan memahami persoalan, menyusun argumentasi, memilih jalur penyelesaian, serta bertindak secara terukur dan bertanggung jawab.
Prof. Fauzi juga menyoroti relevansi keterampilan advokasi bagi mahasiswa FTIK sebagai calon pendidik. Ketika kelak terjun ke dunia pendidikan, mereka akan memiliki tanggung jawab untuk melindungi hak peserta didik dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta mendukung perkembangan anak.
Oleh karena itu, calon pendidik perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi peserta didik, sekaligus memahami cara yang tepat untuk menyampaikan keberatan, mencari solusi, dan memperjuangkan hak secara bertanggung jawab. Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Melalui materi advokasi dan analisis wacana media, peserta memperoleh ruang untuk memperluas pemahaman mengenai cara melihat persoalan serta menyikapi informasi yang beredar di ruang publik. Kedua materi tersebut saling berkaitan dalam membangun kemampuan mahasiswa untuk mengidentifikasi masalah, memahami konteks pemberitaan atau opini, serta mempertimbangkan langkah yang sesuai sebelum mengambil tindakan.
Di tengah penggunaan media sosial yang semakin lekat dengan kehidupan mahasiswa, kemampuan menganalisis informasi menjadi bekal penting agar suatu persoalan tidak dinilai hanya berdasarkan potongan informasi atau opini yang berkembang. Mahasiswa perlu membedakan fakta dan pendapat, mempertimbangkan konteks, serta menghindari kesimpulan terburu-buru.
Kemampuan tersebut juga mendukung proses advokasi yang lebih terarah. Sebelum menyuarakan atau mengawal suatu persoalan, mahasiswa diharapkan mampu memahami inti masalah, menyusun argumentasi berdasarkan informasi yang relevan, dan memilih cara penyampaian yang tepat.
Seminar Advokasi yang diselenggarakan SEMA FTIK ini diharapkan dapat mendorong terbentuknya budaya mahasiswa yang kritis, berani menyampaikan aspirasi, serta tetap mengedepankan objektivitas dan tanggung jawab. Bekal tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Melalui kegiatan ini, SEMA FTIK turut memperkuat peran organisasi mahasiswa sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas mahasiswa. Tidak hanya menjadi wadah penyampaian aspirasi, organisasi mahasiswa juga diharapkan mampu membangun tradisi diskusi yang sehat, analisis yang cermat, dan advokasi yang berpijak pada pemahaman persoalan serta langkah penyelesaian yang tepat.