International Public Lecture Series: Dekan FTIK UIN Saizu Jadi Narasumber, Bahas Rekonstruksi Keilmuan PIAUD Berwawasan Global
03/10/2026 2026-10-03 15:34International Public Lecture Series: Dekan FTIK UIN Saizu Jadi Narasumber, Bahas Rekonstruksi Keilmuan PIAUD Berwawasan Global
International Public Lecture Series: Dekan FTIK UIN Saizu Jadi Narasumber, Bahas Rekonstruksi Keilmuan PIAUD Berwawasan Global
Purwokerto, 03/10/2026 – Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., diundang sebagai narasumber dalam kegiatan International Public Lecture Series bertema “Multiculturalism and Literacy in the Asian Community” yang diselenggarakan di Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini menjadi ruang akademik untuk membahas pentingnya multikulturalisme dan penguatan literasi dalam masyarakat Asia yang beragam.
Dalam forum tersebut, Prof. Fauzi menyampaikan gagasan mengenai rekonstruksi keilmuan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) melalui kurikulum transdisipliner multikultural. Gagasan ini menekankan pentingnya menghubungkan nilai-nilai universal Islam, pendidikan anak usia dini, realitas sosial-budaya, serta isu-isu global dalam membangun fondasi literasi kewarganegaraan global sejak dini.

Menurut Prof. Fauzi, perkembangan masyarakat yang semakin terhubung menuntut pendidikan untuk tidak hanya berorientasi pada konteks lokal, tetapi juga mampu merespons keberagaman budaya, bahasa, agama, serta dinamika kehidupan global. Pendidikan Islam memiliki landasan nilai yang relevan untuk membangun sikap saling menghormati, toleransi, keadilan, kasih sayang, dan persaudaraan di tengah perbedaan.
“Nilai Islam tetap menjadi dasar, tetapi terbuka pada perkembangan ilmu dan kehidupan masa kini,” demikian salah satu gagasan utama yang ditekankan dalam pemikiran rekonstruksi keilmuan PIAUD yang disampaikan Prof. Fauzi.
Ia menjelaskan bahwa rekonstruksi keilmuan bukan sekadar menambah mata kuliah, melainkan menata kembali cara pandang dan hubungan antardisiplin ilmu. Dalam pendekatan transdisipliner, berbagai bidang keilmuan tidak hanya ditempatkan berdampingan, tetapi dipadukan untuk memahami dan menjawab persoalan nyata secara utuh.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pendekatan tersebut dapat menghubungkan ilmu keislaman, pendidikan dan psikologi anak, kesehatan dan gizi, sosial-budaya, seni, hingga kewarganegaraan global. Melalui keterpaduan tersebut, pembelajaran diharapkan lebih kontekstual serta dekat dengan pengalaman dan kehidupan anak.
Prof. Fauzi juga menyoroti pentingnya menanamkan literasi kewarganegaraan global sejak usia dini. Fondasi ini dapat dikembangkan melalui empat kemampuan utama, yaitu mengenali identitas diri dan keberagaman, menumbuhkan empati, membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang-orang dari latar belakang berbeda.
“Pendidikan Islam memiliki nilai universal untuk membangun kasih sayang, sikap saling menghormati, toleransi, keadilan, dan persaudaraan,” menjadi penegasan dalam materi yang dibawakan Prof. Fauzi mengenai posisi nilai-nilai Islam dalam pendidikan multikultural.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kurikulum PIAUD perlu dikembangkan secara kontekstual, integratif, berjenjang, dan berbasis riset. Pengembangan tersebut juga perlu ditopang oleh penguatan profil lulusan dan capaian pembelajaran, kompetensi dosen, kerja sama, bahan ajar, serta evaluasi pembelajaran.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Nurfuadi, M.Pd.I., yang memandu jalannya diskusi dan menghubungkan tema multikulturalisme dan literasi dengan gagasan yang disampaikan narasumber. Melalui forum akademik tersebut, pembahasan diarahkan pada relevansi pendidikan dalam merespons masyarakat Asia yang memiliki keragaman latar belakang budaya, bahasa, dan agama.
Dr. Nurfuadi, M.Pd.I., menegaskan bahwa multikulturalisme dan literasi merupakan dua aspek penting yang saling berkaitan dalam membangun masyarakat yang mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. Menurutnya, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami perbedaan, membangun dialog, serta menyikapi keragaman secara bijaksana.
“Di tengah masyarakat Asia yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan agama, literasi menjadi jembatan untuk saling memahami. Pendidikan perlu membangun kesadaran bahwa perbedaan bukan penghalang untuk bekerja sama, melainkan bagian dari realitas yang perlu dipahami dan dihargai,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan perspektif multikultural dalam pendidikan sejak usia dini. Dengan demikian, anak tidak hanya tumbuh dengan pengetahuan, tetapi juga memiliki empati, kepedulian, dan kemampuan berinteraksi secara positif dengan lingkungan yang beragam.
Partisipasi Dekan FTIK sebagai narasumber dalam kegiatan ini sekaligus memperluas ruang diseminasi gagasan akademik fakultas, khususnya mengenai pengembangan pendidikan Islam yang responsif terhadap tantangan multikulturalisme dan perubahan global. Pemikiran tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab FTIK dalam menyiapkan calon pendidik yang memiliki kompetensi pedagogis, berakar pada nilai-nilai keislaman, serta peka terhadap keragaman.
Melalui forum International Public Lecture Series ini, gagasan tentang kurikulum transdisipliner multikultural diharapkan dapat memperkaya diskursus akademik mengenai pendidikan dan literasi di kawasan Asia. Bagi FTIK UIN Saizu, penguatan perspektif tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan pendidikan calon guru yang mampu menjembatani nilai-nilai lokal dan keislaman dengan kebutuhan masyarakat global.