PIAUD FTIK UIN Saizu Perkuat Implementasi OBE melalui FGD Penyusunan Dokumen Pembelajaran
29/09/2026 2026-10-03 15:11PIAUD FTIK UIN Saizu Perkuat Implementasi OBE melalui FGD Penyusunan Dokumen Pembelajaran
PIAUD FTIK UIN Saizu Perkuat Implementasi OBE melalui FGD Penyusunan Dokumen Pembelajaran
Purwokerto, 29/09/2026 – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto terus memperkuat implementasi Outcome-Based Education (OBE) melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Pembelajaran Kurikulum OBE. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, 29 September 2026, di Meeting Room K.H. A. Wahid Hasyim.
FGD menghadirkan dua narasumber dari perguruan tinggi berbasis teknologi, yakni Prof. Dr. Syamsul Arifin dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Megawati Santoso, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan ini menjadi ruang bagi dosen PIAUD untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengevaluasi penerapan OBE dalam proses pembelajaran.
Dekan FTIK UIN Saizu, Prof. Dr. H. Fauzi, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penerapan kurikulum OBE di lingkungan FTIK secara formal telah berjalan sekitar dua tahun. Namun, semangat dan substansi OBE sesungguhnya telah mulai diintegrasikan dalam desain kurikulum sejak penerapan Kurikulum Merdeka dan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).
“Secara formal kami sudah menerapkan kurikulum ini dua tahun. Tetapi secara substansial sebetulnya sudah sejak Kurikulum Merdeka atau MBKM,” ungkap Prof. Fauzi.
Menurutnya, penguatan OBE tetap diperlukan karena implementasi kurikulum berbasis capaian tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk dokumen. Keselarasan antara kurikulum, Rencana Pembelajaran Semester (RPS), materi pembelajaran, aktivitas perkuliahan, hingga asesmen mahasiswa perlu dipastikan benar-benar mencerminkan prinsip OBE.
Prof. Fauzi menyoroti adanya kemungkinan kesenjangan antara dokumen pembelajaran yang telah menggunakan format OBE dengan praktik pembelajaran yang berlangsung di kelas.
“Secara formal RPS-nya sudah format OBE, tetapi praktiknya masih seperti dulu,” tuturnya.
Karena itu, FGD tersebut diharapkan menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan pembenahan secara lebih substantif. Dosen tidak hanya diarahkan untuk memahami OBE dari sisi administratif, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam desain pembelajaran dan asesmen yang berorientasi pada capaian mahasiswa.
Prof. Fauzi menjelaskan, kegiatan penguatan OBE dilaksanakan secara bertahap di seluruh program studi yang berada di bawah FTIK. Fakultas saat ini memiliki delapan program studi yang didorong untuk memperkuat pemahaman dan praktik OBE melalui kegiatan serupa dengan menghadirkan narasumber dari berbagai perguruan tinggi.
Kehadiran narasumber dari ITS dan ITB menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif keilmuan. Selama ini, penguatan kurikulum di lingkungan FTIK lebih banyak diperoleh dari perguruan tinggi berbasis sosial-humaniora, khususnya PTKIN dan perguruan tinggi dengan karakter keilmuan yang serumpun.
“Jadi hari ini istimewa sekali, khususnya dosen Prodi PIAUD. Kita akan belajar langsung dengan dua narasumber,” ujar Prof. Fauzi.
Menurutnya, pengalaman perguruan tinggi lain dapat memberikan insight sekaligus praktik baik yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran di FTIK. Hal tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun jejaring keilmuan yang lebih luas, tidak hanya dengan perguruan tinggi keagamaan Islam, tetapi juga dengan perguruan tinggi umum yang memiliki kekuatan dalam bidang teknologi dan inovasi.
Khusus bagi PIAUD, penguatan tersebut memiliki arti penting karena program studi memiliki tanggung jawab menyiapkan calon pendidik anak usia dini yang mampu menghadapi perubahan kebutuhan pendidikan dan perkembangan teknologi.
Dalam FGD tersebut, Prof. Syamsul menekankan pentingnya memahami OBE dengan merujuk pada regulasi dan sumber yang jelas, bukan semata-mata berdasarkan persepsi pribadi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu landasan yang digunakan dalam pembahasan kurikulum pendidikan tinggi adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Regulasi tersebut berkaitan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yang kemudian diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI.
Sementara itu, aspek teknis pengembangan kurikulum pendidikan tinggi juga diatur melalui regulasi pada tingkat kementerian. Dalam paparannya, Prof. Syamsul mulai menguraikan Permendikbud Nomor 49 Tahun 2014 sebagai salah satu regulasi yang menjadi bagian dari perkembangan kebijakan pendidikan tinggi.
“Materi yang saya susun ini menggunakan rujukan yang jelas. Saya mengurangi persepsi pribadi,” jelas Prof. Syamsul.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar pemahaman terhadap OBE tidak berkembang menjadi berbagai versi yang justru menimbulkan kebingungan di tingkat program studi. Melalui landasan regulasi dan pengalaman praktik di perguruan tinggi, dosen diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai prinsip, desain, dan implementasi OBE.
FGD yang berlangsung di lingkungan PIAUD FTIK tersebut tidak hanya diarahkan pada penyusunan kelengkapan administratif kurikulum. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan adanya kesinambungan antara dokumen kurikulum dengan pengalaman belajar mahasiswa.
Pembahasan OBE mencakup bagaimana capaian pembelajaran dirumuskan, bagaimana capaian tersebut diterjemahkan ke dalam desain pembelajaran, bagaimana materi dan aktivitas perkuliahan disusun, serta bagaimana asesmen digunakan untuk mengukur ketercapaian learning outcomes.
Hal tersebut sejalan dengan perhatian Dekan FTIK yang menekankan pentingnya melihat kembali apakah praktik perkuliahan benar-benar telah berjalan sesuai dengan prinsip OBE.
Dengan demikian, keberadaan RPS berformat OBE tidak menjadi tujuan akhir. Dokumen tersebut harus menjadi pedoman yang benar-benar digunakan dalam proses pembelajaran sehingga capaian pembelajaran lulusan dapat direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terukur.
Melalui kegiatan tersebut, PIAUD FTIK UIN Saizu menegaskan komitmennya untuk terus melakukan penguatan kurikulum dan pembelajaran yang berorientasi pada capaian. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar FTIK dalam menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan dan pedagogis, tetapi juga mampu merespons perkembangan teknologi serta kebutuhan pendidikan di masa mendatang.